RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Jendela Keluarga » Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri

Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri

mitrafm.com Tuhan, Jangan Biarkan Aku SendiriMitraFM.com – Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri (Oleh: Mohammad Fauzil Adhim). Menjelang tengah malam, seorang ikhwan mengirim SMS kepada saya. Dia seorang aktivis yang amat banyak menghabiskan waktunya untuk menyebarkan kebaikan. Bila berbicara dengannya, kesan yang tampak adalah semangat yang besar di dadanya untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan. Kalau saat ini yang mampu dilakukan masih amat kecil, tak apa-apa. Sebab perubahan yang besar takkan terjadi bila kita tidak mahu memulai dari yang kecil. Tetapi kali ini, ia berkirim SMS bukan untuk berkongsi semangat. Ia kirimkan SMS kerana ingin meringankan beban yang hampir ada kerinduan yang semakin bertambah untuk memiliki pendamping yang dapat menyayanginya sepenuh hati.

SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kes selainnya. Usia sudah melewati tiga puluh, tetapi belum juga ada tempat untuk menambatkan rindu. Seorang pemuda usia sekitar 40 tahun, memiliki kerjaya yang cukup sukses, merasakan betapa sepinya hidup tanpa isteri. Ingin menikah, tapi takut ! tidak dapat mempergauli isterinya dengan baik. Sementara terus membujang merupakan siksaan yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu ia ingin menikah, ketika kerjayanya belum seberapa. Tetapi niat itu dipendam dalam-dalam kerana merasa belum mantap. Ia harus mengumpulkan dulu wang yang cukup banyak agar dapat menyenangkan isteri. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika ingin mendapatkan isteri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menguatkan hati, memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila engkau ingin mendapatkan suami yang boleh menjaga pandangan, tak mungkin engkau meraihnya dengan, “Hai, aweks… Sunyi nampak “

Saya teringat dengan sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan tentang nikah). Beliau berkata,

Ruh itu seperti pasukan tentara yang berbaris.”

Bila bertemu dengan yang serupa dengannya, ia akan mudah mengenali, mudah juga bergabung dan bersatu. Ia tidak mendapatkan pendamping yang mencintaimu dengan sederhana, sementara engkau jadikan gemerlap kemantapannmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau jadikan gemerlap kemantapannmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan suami yang menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di hatinya kecuali kepadamu; sementara engkau berusaha meraihnya dengan menawarkan couple sebelum terikat oleh pernikahan? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan menggoda?

Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang diredhai tak jarang kerana kita sendiri mempersulitnya. Suatu saat seorang perempuan memerlukan perhatian dan kasih-sayang seorang suami, ia tidak mendapatkannya. Di saat ia merindukan hadirnya seorang anak yang ia kandung sendiri dengan rahimnya, tak ada suami yang menghampirinya. Padahal kecantikan telah ia miliki. Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang. Begitupun wang, tak ada lagi kekhawatiran pada dirinya. Jawatannya yang cukup mantap di perusahaan memungkinkan ia untuk membeli apa saja, kecuali kasih-sayang suami.

Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mahu serius dengannya, tetapi demi kerjaya yang diimpikan, ia menolak semua ajakan serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan seseorang, itu sebatas couple. Tak lebih. Sampai kerjaya yang diimpikan tercapai; sampai ia tiba-tiba tersedar bahwa usianya sudah tidak terlalu muda lagi; sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa suami, sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk menguruskan anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesedaran itu ada, mencari orang yang mahu serius dengannya sangat sulit. Sama sulitnya menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu.

Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka menunda pernikahan di saat Allah memberi kemudahan. Mereka enggan melaksanakannya ketika Allah masih memberinya kesempatan kerana alasan belum dapat menyelenggarakan walimah yang “wah”. Mereka tetap mengelak, meski terus ada yang mendesak; baik lewat sindiran mahupun dorongan yang terang-terangan. Meski ada kerinduan yang tak dapat diingkari, tetapi mereka menundanya kerana masih ingin mengumpulkan biaya atau mengejar kerjaya. Ada yang menampik “alasan kerjaya” walau sebenarnya tak jauh berbeza. Seorang akhwat menunda nikah mesti ada yang mengkhitbah kerana ingin meraih kesempatan membuat master (“Tahun depan kan belum tentu ada biasiswa”). Ia mendahulukan pra-sangka bahwa kesempatan membuat master tak akan datang dua kali, lalu mengorbankan pernikahan yang Rasullah Saw. Telah memperingatkan:

“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau redha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, mereka akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan syar’i, dan akhirnya mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah, tetapi tak kunjung ada yang mahu serius dengannya.

Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus berlanjutan. Bila di usia-usia dua puluh tahunan mereka menuda nikah kerana takut dengan ekonominya yang belum mantap, di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom merasa puas (meskipun wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30 tahun). Mereka menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi.

Seperti hukum kategori, semakin banyak ! kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula dengan kriteria tentang jodoh, ketika kita menetapkan kriteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang sudah berusia sekitar 35 tahun, masalah mereka bukan soal kriteria, tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia 40-an, ketakutan yang dialami oleh laki-laki sudah berbeza lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya, banyak kriteria yang dipasang, pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi isteri dengan baik. Lebih lebih ketika usia sudah beranjak mendekati 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Ada kekhawatiran jangan-jangan di saat anak masih kecil, ia sudah tak sanggup lagi mencari nafkah. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan (kerana simpanan yang melimpah), jangan-jangan ia sudah mati ketika anak-anak masih perlu banyak dinasihati. Bila tak ada iman di hati, ketakutan ini akhirnya melahirkan keputus-asaan. Wallahu A’lam bishawab. (ikr/dakwah)

Baca Juga

Biografi Singkat Mufassir

MitraFM.com– Sejatinya, ulama penulis tafsir al Qur’an begitu banyak. Setiap jaman selalu muncul ulama besar ...