RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Bekal-bekal Pernikahan

Bekal-bekal Pernikahan

love-wowMitraFM.com– ”Kang, bekal apa yang diperlukan menuju pernikahan?” seorang teman membuka obrolan di FB
Awalnya saya tanggapi santai saja. Eh, ternyata dia berkata, “Kang ini serius lho, wis ngebet hehe.”
Saya jawab, “Saya juga serius, tapi dibawa santai aja hehe.”
Dan seterusnya, hingga saya rangkumkan catatan tersebut dalam tulisan sederhana ini.

Berbekal itu penting, harus bahkan. Paling tidak atas 4 (empat) hal berikut :

Pertama; Nikah adalah ibadah
Sesungguhnya setiap ibadah tidak akan sempurna dilakukan kecuali jika:  niatnya karena Allah, dan; dipandu dengan ilmu. Shalat misalnya. Shalat yang benar adalah shalat yang dikerjakan karena didorong untuk menjalankan perintah Allah dan mengharap ridhaNya. Tidak benar manakala kita shalat sekedar untuk olahraga, biar disebut orang alim atau untuk menundukkan hati calon mertua hehe.

Dan, tentu saja harus mengikuti tatacara nabi (ittiba’ur rasul / diilmui). Artinya, tidak benar jika shalat semaunya sendiri, sak karepe dhewe. Ada aturan syarat rukun dan kaifiyatnya. Dengan demikian karena nikah adalah ibadah, maka harus diniatkan menjalankan perintah Alllah demi ridhaNya; dan, disempurnakan dengan ilmu.

Jelas dan tegas. Modal pertama adalah niat lurus untuk menjalankan syariat Allah/ Sunnah Rasul serta diilmui. Nah, dalam kamus nikah ini tidak dikenal ‘modal cinta’. Apalagi modal dengkul hehe.

Itu artinya, bukan karena ‘kami saling cinta maka kami menikah’ , tapi karena syariat Allah dan Sunnah Rasul saya menikah. Ya, sebelum nikah ini kata cinta belum boleh muncul. Lho kok.. ya iya lah , ‘kan belum ada ‘makhluk’ yang dicintai hehe.  Itu berarti sebelum menikah hanya ada dua pekerjaan yang harus dilakukan, pertama, menata niat; kedua, membekali diri dengan ilmu.

Kedua;  Nikah butuh Ilmu
Umumnya orang menikah karena didorong oleh rasa  suka, cinta, sayang, dll ( ieh ini kata mereka).  Maka munculah kata, “Aku mencintaimu. Maukah engkau menikah denganku..”

Inilah kesalahan pertamanya. Kesalahan motivasi. Kesalahan niat. Saya ulangi, niat nikah semestinya didorong oleh semangat menjalankan perintah Allah atau Sunnah Rasul. Bukan didorong oleh cinta. Karena itulah setiap diri butuh ilmu menata niat ini, bukan ilmu jatuh cinta. Apalagi ilmu raja gombal 🙂

Selanjutnya setiap calon pengantin wajib tahu ilmu tentang apa saja yang terkait dengan pernikahan. Misalnya, tujuan nikah, interaksi yang shahih dengan pasangan, kewajiban dan hak-hal pasangan. Termasuk hal- hal yang dilarang dan diperbolehkan dalam ‘berdua’, dll. Semua tentang pernikahan A – Z.

Saya kira, jika setiap diri belajar itu, hampir tak ada waktu untuk pacaran. Memang, nikah tidak membutuhkan pacaran. Karena nikah itu ibadah. Dan ibadah itu butuh ilmu. Maka nikah butuh ilmu..:) nggak butuh pacaran 🙂

Ketiga;  Nikah Butuh Keberanian Bertanggungjawab
Seketika setelah ikrar ijab qabul, kita yang pada mulanya bukan siapa-siapa berubah menjadi suami istri. Saat itu pula perwalian atas seorang wanita jatuh kepada suami. Dengan demikian, suami seketika itu pula menjadi penanggungjawab istrinya.

Ya, bertanggungjawab atas nafkahnya, kehormatannya, pengembangan dirinya, dan semuanya. Disinilah setiap laki-laki harus berani berpayah-payah. Berani bersusah-susah demi bidadari  yang menjadi tanggungjawabnya. Demikian pula dengan istri, saat itu ia sudah harus siap bertanggungjawab atas tugas-tugasnya.

Inilah yang kata sebagian orang disebut siap mental. Saya sebut saja kesiapan berjuang bersama-sama 🙂

Pada poin ini biasanya banyak laki-laki yang ragu-ragu. “Bagaimana mungkin menghidupi istri, lah untuk makan sendiri saja gak cukup.”  Kalimat ini jelas menandakan ketidaksiapan bertanggungjawab. Sekaligus keraguan akan jaminan riski bagi orang yang menikah. Ini soal mental dan iman 🙂 jadi orang yang sepert ini memang belum layak menikah hehe.

Oh ya, menikah tidak mengharuskan Anda punya gaji tetap, tapi keberanian bertanggungjawab. Meskipun gaji belum tetap, tapi siap bertanggungjawab, tentu boleh menikah. Sssttt.. ya meskipun ada mbak-mbak yang tak siap dengan ‘ketidakpastian’ itu hehe.

Walaupun saya bisa juga katakan, ”Yang bergaji tetap pun bisa di PHK kok hehe.” Lebih mantab  milih yang mana mbak ketika ada ikhwan bergaji tetap,  tapi tak siap memberi nafkah ; atau belum bergaji tetap, namun siap bertanggungjawab memberi nafkah? Biasanya mbak-mbak akan bilang, “Ya, yang gaji tetap dan siap memberi nafkah hehe.”

Enak banget ya 🙂 Ini artinya siap enak, tapi gak siap berjuang bersama 🙂

Ingat! Persiapan finansial ini penting. Pertanyaan yang harus ada dalam diri laki-laki adalah, “Bagaimana cara halal saya memenuhi nafkah istri saya.”  Bukan sibuk mencari pekerjaan yang enak 🙂 Yup intinya siap memberi nafkah, titik.

 Keempat; Kesiapan Fisik
Olahraga biar kuat. Jaga kebugaran.  Jaga bau badan. Perhatikan bau mulut 🙂 Lho penting kah? Penting. Sangat penting. Ingat! Sejak kau dinyatakan sebagai suami istri, kau tidak lagi sendiri. Kau akan begitu dekat dan sangat-sangat dekat dengan pasangan hidupmu. Bahkan satu selimut…:) Serius ini. Dalam pernikahan ada keindahan yang boleh dinikmati berdua. Bahkan ia bagian dari kewajiban nafkah bathin 🙂

Ya, meski dengan gaya santai dan gurauan semoga catatan kecil ini bermanfaat. Oh ya, selamat menyiapkan diri ya!(Kang Harits/ Jendela Keluarga)

 

Baca Juga

Detoksifikasi Alami Selama Puasa

MitraFM.com– Ada ungkapan yang menyatakan,  “ Jika Anda tidak makan 3 hari 3 malam, bisa – ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 − 4 =