RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Parenting » Anak » Mendidik Anak Tentang Makna Idul Adha

Mendidik Anak Tentang Makna Idul Adha

 

kambingMitraFM.com– Sebentar lagi Idul Adha menjelang. Idul Adha merupakan momen perjuangan cinta Nabi Ibrahim. Dalam momen ini, hanpir semua khatib shalat Ied nyaris kompak menyajikan kisah penyembelihan Bapak para Nabi ini terhadap putranya, Ismail. Namun tahukah bahwa di dalam kisah ini, terselip secuplik interaksi Bapak-Anak yang sangat mendidik?

Kita tilik terlebih dahulu kisah shahih dan mutawatirnya dalam Kitabullah.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (yaitu Ismail). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai, bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman (QS Ash Shaafaat: 100-111).”

Dari sekumpulan ayat tersebut, mari kita pointer-kan hikmah-hikmah apa saja yang dapat kita pelajari dan yang dapat kita praktekkan dalam mendidik anak-anak kita:

  1. Mendoakan Anak
    Teks doanya jelas tercantum di ayat ke-100, “Rabbii hablii minash shaalihiin – Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Praktek:
Kita dapat menyelipkan doa tersebut dalam momen makbul berdoa, seperti setelah shalat, sehabis qiyamul lail, antara adzan dan iqamat, dan sebagainya. Semoga Allah mengabulkan doa kita bersama.

  1. Prioritas Cinta
    Bahwa kecintaan hakiki hanyalah kepada Allah semata. Walau sudah pasti pula, seorang ayah mencintai anaknya. Maka, tatkala perintah Allah sudah jelas dalam mimpi Nabi Ibrahim, jawaban pasti adalah merealisasikan kecintaan itu, yakni melalui penyembelihan Nabi Ismail.

Praktek:
Sekedar contoh kecil, tatkala adzan menggelora, kita bisa lepaskan sejenak betapa menggemaskannya anak kita. Contoh lain, tatkala teramanahi mujahadah dalam dakwah, semoga putra-putri kita bukan penggerus kesenangan, penghambat ketaatan itu.

  1. Hak Berpendapat
    Betapa pun sudah optimal pendidikan Ibrahim terhadap Ismail, ternyata sang Bapak masih perlu meminta pendapat. “Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Pendapat yang sebetulnya penegasan. Penajaman tekad bahwa sebetulnya sang anak sudah taat kepada Tuhannya. “Hai, bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tutur Ismail kala itu.

Praktek:
Salah satu wujud perhatian bapak kepada anak adalah dengan meminta pendapat. Hal ini bisa dipraktekkan secara universal. Contoh kecilnya adalah tanya berikut, “Menurut dedek, kita hari ini belanja apa ya? Kita mau masak apa ya? Apa pendapat Dedek bila ibu masak sop?” Contoh penegasan dalam ketaatan bisa kita tuai dari tanya ini, “Menurut Dedek, bagaimana bila Bapak tidak shalat ke masjid?” Tentu saja itu hanya pengandaian yang menguji pemahaman anak kita. Kalau anak mencegah, betapa bangganya kita sebagai orang tua.

  1. Keteladanan dalam Pengorbanan
    Poin ini seiring dengan gelaran Nabi Ibrahim, yakni khalilullah. Bagaimana tidak? Ujian keimanan yang demikian besar telah dilalui. Putra semata wayangnya rela dikorbankan, “Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”

Praktek:
Tatkala anak kita diuji Allah dengan kesulitan, permasalahan, kehilangan barang, kita bisa menyematkan berbutir keteladanan ke relung hatinya, “Duhai anakku, kalau engkau kehilangan sandal di masjid, sesungguhnya Nabi Ibrahim disuguhi ujian berupa nyaris kehilangan putra tercinta. Jika pun engkau mencintai sandalmu yang hilang itu, betapa Allah sebetulnya sedang memberi ujian, supaya Engkau tetap berketaatan optimal, walau barangmu hilang atas takdir Allah.”

Sedikit poin aplikatif mendidik anak di momen Idul Adha ini. Tentunya berkiblat pada karakter sahabat Nabi sebagai generasi terbaik umat ini yang pernah ada. Mereka adalah insan muslim yang tak pernah beroleh ilmu melainkan disertai semangat untuk mengamalkannya.

 

Baca Juga

Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren

Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren

MitraFM.com – Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren. Tantangan yang sangat kasat mata bagi umat Islam saat ini adalah ...