RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Catatan Siar » Jangan Menghina Pelaku Dosa

Jangan Menghina Pelaku Dosa

stop 2MitraFM.com– Saudaraku, hela nafas sebentar. Dan, mari perhatikan kalimat sederhana ini : “Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang.” Itulah penyakit ber bahaya.

Jika melihat orang lain ditimpa masalah (ujian hidup) tahanlah diri, untuk tidak mencibirnya. Tahanlah lisan agar tidak mencelanya. Jauhi sikap menampakkan rasa senang atas ujiannya. Sebab bisa jadi ujian itu justru jalan memuliakan dirinya, sementara kita mendapat bencana karena mencibir dan rasa senang atas ujiannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jangan kau tampakkan sikap senangmu atas kesulitan yang dialami saudaramu. Bisa jadi dia akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT dan justru Allah menimpakan bencana kepadamu .” (HR. Tirmidzi)

Saudaraku, ujian hidup seseorang itu bisa berupa perbuatan dosa yang masih dilakukannya. Mereka masih belum bisa keluar dari kubangan kemaksiatan. Atas hal ini jangan pula mencibirnya, menghinanya. Takutlah jika ternyata penghinaan kita terhadap dosa mereka adalah sebentuk dosa yang lebih besar!

Ibnul Qayyim berkata : “Penghinaanmu kepada saudaramu, atas dosa yang dilakukannya, adalah dosa yang lebih besar dan lebih dahsyat daripada kemaksiatan yang dilakukan saudaramu itu. Itu karena dalam penghinaan, terkandung unsur kesombongan, tertipu sikap merasa lebih taat dari yang lain, mengaku memiliki jiwa bersih dan mengaku tidak terlibat dalam dosa yang dilakukan saudaramu serta bersih dari kemaksiatan kepada Allah SWT.”

Saudaraku, menahan diri dari menghina saudara itu keindahan. Keindahan yang tak hanya bisa dinikmati oleh mata. Dan, inilah keindahan yang seindah-indahnya keindahan. Keindahan yang menghidupkan jiwa. Keindahan yang menentramkan pemiliknya. Keindahan yang menggetarkan hati orang-orang yang bersamanya. Keindahan yang penuh kemuliaan. Keindahan menahan lisan dari mencela.

Sungguh, sebuah keindahan yang sangat indah akan kita peroleh saat kita bisa melakukan melakukan keburukan lantas ditahan oleh kearifan.

Saudaraku, ini seperti indahnya zuhud di tengah limpahan kekayaan. Tawadhu’ di tengah limpahan ilmu. Sabar di tengah ujian dan musibah. Atau indahnya tegas yang tidak disertai kekerasan, nasehat yang tak ditaburi celaan. Begitu juga ada pada kelebihan yang tak diiringi kesembongan. Pada kekurangan yang tak diperparah oleh keputusasaan. Wallahu a’lam bis shawwab. (Kang Harits/ Muhasabah)

Baca Juga

Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren

Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren

MitraFM.com – Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren. Tantangan yang sangat kasat mata bagi umat Islam saat ini adalah ...