RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Meneladani Sosok Sempurna

Meneladani Sosok Sempurna

doaMitraFM.com– Saudaraku, sering kali kita mendengar ungkapan : “Tak ada manusia yang sempurna.” Benar. Jika kalimat itu mewakili kenyataan diri manusia yang pasti punya kelemahan, kekurangan dan kesalahan. Tetapi tidak, jika kalimat itu hanya untuk membela diri atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan dengan sengaja atau sebagai argumentasi pembiaran diri untuk tidak berkembang dan tumbuh lebih baik.

Kita harus tumbuh menuju kesempurnaan. Ya, sempurna sebagai manusia dengan potensi-potensi yang dimaksimalkan. Sempurna yang tetap dalam kemanusiaannya (punya kelemahan, kekuarngan dan kesalahan). Sempurna dengan menjadi seorang hamba Allah, berakhlak mulia dan memberi manfaat bagi sesama. Sebatas itu.

Saudaraku, ketahuilah sejatinya manusia sempurna itu, ada. Dia teladan kita. Manusia teragung, Muhammad, Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam. Allah perintahkan kita meneladaninya. Semaksimal kita bisa. Memang, pasti kita tidak bisa sempurna, tetapi menuju atau mendekati yang sempurna. Itu jalan kita. Meneladani manusia sempurna.

Mari teladani beliau. Hal yang seringkali luput dari pengetahuan kita atas hal-hal kecil namun berdampak besar, misalnya meneladani sikap beliau mendoakan anak-anak.

Suatu ketika Ibnu Abbas kecil menyiapkan air wudlu Rasulullah. Beliau bertanya : “Siapa yang meletakkan air ini?” Ibnu Abbas menjawab bahwa dirinya yang melakukan. Rasullullah berdoa : “Allahumma faqqihhu fid diin,” Ya Allah pahamkan dia tentang agama. Doa itu terkabut. Ibnu Abbas kelak dikenal sebagai ulama besar dijuluki turjumanun Qur’an.

Orang-orang shalih juga mendoakan anak-anaknya. Fudhail bin Iyadh mendoakan anaknya, Ali : “Ya Allah sesungguhnya engkau tahu bahwa aku sudah berusaha mendidik anakku Ali, tapi aku tidak mampu. Maka didiklah dia untukku.” Kelak Ali ini dikenal sebagai ulama besar .

Saudaraku, jangan-jangan selama ini kita hanya minta didoakan mereka tanpa pernah mendoakan mereka? Apalagi setiap kali minta didoakan hanya seputar rejeki : ”Doakan rejeki ayah lancar ya nak?” Pernahkah kita berkata: “Nak, doakan ayah ibu bisa mengantarmu menjadi hamba yang shalih ya.” Astaghfirullaha wa atubu ilah.

Ya, menjadi sempurna (dalam kemanusiaan) itulah yang kita harus terus upayakan. Jalannya jelas mengikuti sikap dan perilaku manusia sempurna. Hanya dengan itu kita akan bisa mendekati sempurna. Sungguh, tidak akan mungkin kita menjadi sempurna (dalam kemanusiaan) jika yang diikuti bukan sosok sempurna.  Wallahu a’lam bis shawwab.
(Kang Harits/ Muhasabah)

Baca Juga

Cek Kesehatan Gratis di Hari Jadi Jatim Ke-72

Cek Kesehatan Gratis di Hari Jadi Jatim Ke-72

MitraFM.com – Cek Kesehatan Gratis di Hari Jadi Jatim Ke-72. Dalam rangka menyemarakkan hari jadi Pemerintah Provinsi ...