RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Headline » Dewi, Gadis Tangguh Bagi Adik-Adiknya

Dewi, Gadis Tangguh Bagi Adik-Adiknya

mitrafm.com Dewi, Gadis Tangguh Bagi Adik-Adiknya

MitraFM.com – Dewi, Gadis Tangguh Bagi Adik-Adiknya. Dewi (20 tahun) harus rela menjadi sosok ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Ia adalah tumpuan bagi 5 orang adik-adiknya.

Kondisi tersebut menempa Dewi  menjadi lebih dewasa dari yang seharusnya. Beruntung, optimisme dalam dirinya memancar kuat, sehingga Dewi ikhlas menjalani itu dengan penuh ketangguhan.

Sang Ibu (Edah Yuliati) sejak 2 tahun lalu mengadu nasib ke Negeri tetangga menjadi TKW di Malaysia. Saat itu anak bungsunya Muhammad Hafli baru berumur 1,5 tahun.

Sedangkan sang ayah M. Takbir Idrus yang sejak 4 tahun lalu tidak bisa bekerja, karena trauma berat setelah mengalami kecelakaan mobil saat ia menjadi supir pribadi majikannya.

Karena selain harus mengganti rugi korban yang ia tabrak, M. Takbir juga harus rela kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi mata pencariaanya.

Bahkan tempat tinggalnya meskipun hanya berupa rumah petak kecil namun itu adalah rumah pribadi dari hasil jerih payahnya selama ini, juga harus dijual untuk menjalankan tanggung jawabnya, menyelesaikan ganti rugi.

Sejak saat itu kehidupan M. Takbir dan Endah Yuliati beserta keenam (6) anaknya berubah drastis, ia menggontrak di rumah kecil di Desa Cimaung Sabeulah Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung.

Kondisi ekonomi dan keluarga semakin memburuk karena selain sang istri yang telah merantau meninggalkan ke enam buah hatinya, mengadu nasib demi merubah taraf hidup keluarga.

Namun hingga saat ini Edah Yuliati belum dapat berbuat banyak.

“Mamah kerja di malaysia jadi TKW sejak 2 tahun lalu, tapi sampai sekarang mamah juga belum bisa kirim uang ke kampung halaman, karena waktu memutuskan untuk menjadi TKW ke Malaysia mamah harus berhutang sana-sini jadi belum bisa berbuat apa-apa untuk keluarga,” tutur Dewi.

Karena kondisi itu pula M. Takbir memutuskan untuk mencoba mengadu nasib ikut bersama temannya mencari pekerjaan ke Makasar Sulawesi Selatan 4 bulan lalu.

“Yaa masak mau begini terus, mau sampai kapan seperti ini, mamah kamu juga belum bisa kirim uang ke kampung, adik-adik kamu pada sekolah semua, untuk biaya makan sehari-hari saja harus berhutang,masa mau seperti ini terus,” imbuh Dewi mengisahkan.

Saat tim BMH menyambangi kediaman Dewi Selasa 25 Oktober 2016 Di Desa Cimaung Sabeulah RT. 03 Rw. 03 Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung. tim berangakat dari Bandung pukul 9.30 Wib dan tiba di Cimaung tepat pukul 12.05 Wib.

Saat tiba di kontrakan Dewi yang sejak 10 bulan lalu bekerja sebagai buruh pabrik di salah satu pabrik garment di kawasan Moh. Toha Kota Bandung. Dewi saat itu menunggu ke 4 adik-adiknya pulang sekolah.

Karena minggu ini jadwal shif siang sehingga jam 12.30 Dewi harus berangkat ke tempat kerja, sedangkan Moh. Kafli adik bungsunya yang berusia 3 tahun sedang tertidur di kasur lantai yang kondisinya cukup memprihatinkan.

“Beginilah Pak keseharian saya bersama adik-adik. jika saya kerja shif siang saya harus menungu ke empat adik saya pulang sekolah karena Kafli masih kecil jadi tdk bisa ditinggal sendirian di rumah.

Kalau saya kerja shif pagi dan jam 5 Shubuh harus berangkat maka Kafli  saya titip ke tetangga karena adik lainnya harus tetap ke Sekolah,” terang Dewi.

Seperti sekarang (25 Oktober 2016) Dewi bekerja dari jam 15.00 hingga 22.00 dan tiba di rumah pukul 23.30 hingga 24.00 karena perjalanan dari rumah ke tempat kerja skitar 2 jam dengan menggunakan 2 kali rute angkot.

Belum lagi Dewi harus berjalan kaki dr jalan raya menuju ke Rumah sekitar 500 meter.

“Saya kasihan dengan adik-adik pada masih kecil-kecil tapi Bapak-Ibu tdk bisa kumpul di rumah. Kadang adik saya paling  kecil suka nangis kalau ingat Ibu, terkadang kalau malam suka nanya Bapak sama Ibu kemana,” ungkapnya sembari menyeka air mata yang membulir jatuh di pipinya.

“Alhamdulillah kadang ada tetangga yang bantu kasih beras, tapi untuk kebutuhan makan sehari-hari Dewi harus berhutang ke warung untuk belanja lauk pauk untuk bekal makan adik-adik ke sekolah.

Syukurnya adik-adik paham dengan kondisi Dewi jadi nggak pernah jajan di luar, ke sekolah mereka, Dewi  bekalin nasi dan lauk untuk makan di sekolah,” terangnya.

Memang dengan gaji sebagai buruh pabrik yang tidak begitu besar mengharuskan Dewi memutar otak sehingga kebutuhan dapur tetap bisa berjalan.

Belum lagi dia harus naik angkot 2 kali untuk sampai di tempat kerja yang tidak kurang dari 18.000,-untuk perjalanan pulang-pergi.

Jadi tdk kurang 600.000,- per bulan hanya untuk biaya transportasi ke tempat kerja.

Belum lagi ke empat adiknya yang harus juga naik angkot menuju sekolah yang yang tidak kurang dari 18.000.- bagi ke empat adiknya untuk setiap pulang pergi sekolah.

Sementara itu biaya kontrakan sebesar 500.000,- sudah pasti menanti setiap bulannya. Angka itupun sudah dapat keringanan dari pemilik kontrakan karena prihatin melihat kondisi Dewi dan adik-adiknya.

“Jadi bisa kita bayangkan sebagai tulang punggung keluarga yang sekaligus menggantikan posisi kedua orang tuanya dengan penghasilan dua juta rupiah, maka dituntutlah dewi untuk pintar mengatur keuangan dan bahkan terkadang dia harus mengabaikan kebutuhan pribadi demi agar adik-adiknya terus tetap bisa bersekolah,” ucap Zainal GM BMH Perwakilan Jawa Barat.

Sungguh, masih ada suadara-saudara kita yang hidup dengan cara yang “luar biasa.” Dan, inilah ladang kemuliaan bagi kita semua yang memiliki kemauan tinggi mencapai derajat taqwa di sisi Allah Ta’ala. Berbagi bahagiakan sesama. (Abidin/bmh)

Sumber: bmh.or.id

Baca Juga

Menjadi Sahabat Mertua

  “Kenapa?”, tanya sahabatku membuyarkan lamunanku “Ehm, nggak apa-apa kok?”jawabku ragu sembari menghela nafas “Mertuamu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × four =