RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Catatan Siar » Kisah Pemuda Yang Lurus Aqidahnya

Kisah Pemuda Yang Lurus Aqidahnya

sholehMitraFM.com– Dalam sejarah kepemimpinan islam, tak pernah sekalipun kaum mukminin mengangkat seorang pemimpin dikalangan mereka dari kalangan non muslim. Mengapa demikian?  Ini karena Allah SWT telah memerintahkan yang demikian dan mereka mentaatinya, inspiratif bukan!. Kita tau taka da manusia dan pemimpin dimuka bumi ini yang sempurna dan luput dari kesalahan, namun neskipun demikian pertimbangan utama pilihan pemimpin adalah akidah dan ketakwaannya sebagai pondasi kepemimpinannya.

Nah demikian pula berbanding lurus antara kekuatan aqidah dan ketakwaan mewujudkan ketaatan. Ketaatan kepada Allah adalah unsure utama yang harus dimiliki manusia dalam kehidupan ini. Tanpanya manusia akan berjalan tanpa arah mengikuti hawa nafsunya. Dan bagi para pemuda muslim inilah teladan ketaatan pemuda.
Suatu hari seorang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kemudian ia sodorkan kepada mereka sebuah gelas yang terbuat dari berlian sembari berkata, “Bahkan jika kalian semua mengumpulkan harta untuk membeli gelas berlian ini, kalian tidak akan pernah bisa membelinya. Ini adalah benda termahal seantero negeri.”

Semua menatap kagum. Betapa mahal dan indah gelas yang ada di hadapan mereka. Sang raja melanjutkan, “Wahai rakyatku, siapa diantara kalian yang bersedia untuk memecahkan gelas ini?”

Terkaget-kaget mereka mendengarnya. “Duhai Baginda Raja, bagaimana mungkin kami tega memecahkan benda termahal seantero negeri?” Kata salah seorang dari menteri kerajaan. Yang lain mengangguk setuju.

“Benar, wahai raja, bukankah itu pusaka negeri ini? Kami sekali-kali tak akan tega merusaknya.” Sahut yang lainnya.
Suasana berubah gaduh, masing-masing berbisik kepada teman di sampingnya. Tak berselang lama, seorang pemuda muncul dari kerumunan. Ia berjalan tenang, memberi hormat kepada raja, lantas tanpa berbicara apa-apa, ia langsung ayunkan kapak di genggamannya. Maka seketika gelas berlian itu pecah berkeping-keping.

Seketika itu pula orang-orang berteriak memaki-maki, mereka benar-benar marah. Hampir-hampir mereka akan mengeroyokinya jika saja raja tak segera menenangkan mereka.

“Wahai rakyatku, mari dengar dulu alasan kenapa pemuda ini berani memecahkan gelas berlian itu?” Ujar sang raja.

“Wahai rajaku,” Kata si pemuda. “Gelas berlian ini memang sangat mahal dan sangat penting, tapi perintahmu untuk memecahkannya jauh lebih mahal dan lebih penting dari apapun.”

Sang Raja tersenyum. Betapa bijaknya pemikiran si pemuda.
Pelajaran inspiratif yang sangat berharga yakni bagaimanapun baiknya seseorang di mata manusia. Apapun penilaian manusia tentangnya. Jika Allah tidak meridhoinya, adakah yang bisa kita lakukan untuk menentangnya? Allah bukan sekedar raja sebuah negeri seperti kisah di atas. Dia adalah penggenggam nyawa manusia. Di tangan-Nya lah takdir manusia bahkan takdir suatu negeri. Kesombongan manusia akan titah Allah hanyalah akan menjerumuskan manusia pada kehancurannya sendiri. Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/ pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. An-Nisa’ : 144)
Kita bisa petik pelajaran tentang makna ketaatan yang sesungguhnya. Manusia yang baik bukanlah ia yang mulia dimata manusia, namun menetapi perintah Tuhannya. Mari kembali kepada aturan Allah yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Tidak ada sumber hukum terbaik selainnya. Mulailah kita berusaha untuk menjadi sebaik-baik seorang mukmin.

 

Baca Juga

Kenikmatan Dibalik Kenikmatan

MitraFM.com– Tak ada kenikmatan melebihi nikmat iman. Sangat beruntung orang-orang beriman karena dengan imannya ia ...