RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Catatan Siar » Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar

Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar

MitraFM.com– ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq. Ibunya bernama Ummu Rumman binti ‘Umair.

‘Aisyah lahir empat atau lima tahun setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kun-yah beliau adalah Ummu ‘Abdillah.

Aisyah pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya semua maduku mempunyai kun-yah (julukan), maka sudikah engkau memberikan juga kun-yah untukku?” Beliau menjawab: “Julukilah dirimu dengan putera (angkat)mu ‘Abdullah bin az-Zubair.”

Sejak saat itu, ‘Aisyah diberi kun-yah Ummu ‘Abdillah hingga meninggal dunia. Beliau juga dikenal dengan sebutan Humaira (yang pipinya kemarah-merahan). ‘Aisyah dikenal sebagai wanita yang sangat cantik,gadis yang lincah dan cerdas.

Ummul Mukminin ‘Aisyah memperoleh kedudukan dan cinta Rasulullah yang tidak didapatkan oleh seorang wanitapun pada zamannya. Cinta Rasulullah kepada ‘Aisyah sangat luar biasa. Bahkan, para sahabat selalu menunggu saat yang tepat untuk memberikan hadiah kepada Rasulullah yaitu pada hari giliran ‘Aisyah guna mencari keridhaan beliau, karena mereka mengetahui dalamnya cinta Nabi terhadap ‘Aisyah.

Diantara kelembutan Nabikepada ‘Aisyah terlihat pada waktu beliau pernah lomba lari dengannya. Selain itu, beliau sering mengajaknya secara khusus untuk menyertainya dalam perjalanan.

Cukuplah sebagai bukti ketinggian derajat ‘Aisyah dengan warisan teragung kenabian yang disampaikannya kepada umat Islam. Alhasil, periwayatannya terhadap hadits Rasulullahmemenuhi sebagian besar kitab-kitab sunnah.

Di samping itu, orang-orang yang belajar (menimba ilmu) dari beliau adalah para pembesar sahabat dan tabi’in. Para ulama sejak dahulu sampai sekarang berlomba-lomba menulis ilmu dari beliau. Sebagian mereka menulisnya secara tersendiri, baik dalam bidang fiqih, periwayatan hadits, tafsir al-Qur’an, untuaian sya’ir, maupun hari-hari bersejarah bangsa Arab.

Aisyah adalah istri dunia akhirat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dikisahkan ‘Aisyah pernah berkata: “Malaikat Jibril datang membawaku kepada Rasulullah dalam sehelai kain sutera, seraya berkata: ‘Ini adalah isterimu di dunia dan di akhirat.’”

Pernikahan Rasulullahdengan ‘Aisyah

Sejak dahulu, musuh-musuh Islam tidak pernah menyia-nyiakan satu kesempatan pun untuk berbuat jahat. Tidaklah pula mereka membiarkan satu celah pun terbuka untuk mencela Rasulullah melainkan akan segera memanfaatkannya.

Di antara tuduhan mereka adalah mengenai pernikahan Rasulullah dengan seorang gadis kecil, ‘Aisyah, yang sebenarnya hanya pantas menjadi salah satu puterinya.

Anehnya, tuduhan tersebut baru dilontarkan oleh musuh-musuh Islam pada zaman sekarang, padahal tuduhan semacam ini tidak ditemukan pada zaman nenek moyang mereka dari kalangan bangsa Yahudi, orang-orang munafik, dan kaum lainnya. Hal demikian dikarenakan mereka hidup pada zaman yang menganggap kejadian ini bukanlah suatu keanehan dan bukan pula sebuah aib menurut pandangan dan kondisi masyarakat saat itu. Jika tidak demikian, apakah mungkin orang-orang kafir dan orang-orang yang suka mencela Rasulullah pada zaman itu membiarkan kesempatan emas ini?

Tidak adanya tuduhan tersebut karena mereka telah mengetahui bahwa ‘Aisyah bukanlah gadis kecil pertama yang dinikahkan pada usia dini dengan seorang laki-laki yang lebih tua daripadanya, dan bukan pula yang terakhir. Di samping itu, mengapa hal ini mesti dipungkiri, bukankah sebelumnya ‘Aisyah sudah dipinang oleh Jubair bin Muth’im bin ‘Adi?

Lihat pula ‘Umar bin al-Khaththab, beliau di akhir usianya dengan Ummu Kultsum binti ‘Ali bin Abi Tholib, padahal ‘Umar lebih tua disbanding umur bapaknya (‘Ali). ‘Umar juga pernah menawarkan puterinya, Hafshah, setelah menjanda kepada Abu Bakar dan ‘Utsman, padahal keduanya saat itu seumur dengan ‘Umar.

Aisyah dituduh Berzina

Peristiwa ini dikenal dengan “tuduhan dusta”. Peristiwa ini sangat masyhur disebabkan turunnya beberapa ayat terkait dengan masalah tersebut.

Suatu ketika, rombongan Rasulullah meninggalkan Ummul Mukminin ‘Aisyah (tanpa sengaja) karena beliau sedang sibuk mencari kalungnya yang hilang saat sedang buang hajat. Setelah itu, ‘Aisyah kembali dan menunggu di tempat sebelumnya rombongannya berada, hingga datanglah Shafwan bin Mu’athil sebab dia memang berada di barisan belakang rombongan. Ia pun melihat dan mengenali wajah ‘Aisyah karena pernah melihat beliau sebelum turunnya ayat hijab.

Shafwan lalu menundukkan unta untuk ‘Aisyah dan menuntun keduanya dengan cepat agar dapat menyusul rombongan. Di sisi lain, rombongan Rasulullah panik karena kehilangan ‘Aisyah hingga pagi berikutnya.

Tatkala kaum Muslimin sudah agak tenang, tiba-tiba muncullah Shafwan menuntun unta yang ditunggangi Ummul Mukminin ‘Aisyah. Menyaksikan hal tersebut, orang-orang munafik pun menyebarkan desas-desus sehingga orang-orang yang hatinya berpenyakit turut menyebarkannya. Fitnah ini semakin memanas hingga sanggup menjerat (menyesatkan) sebagian umat Islam.

Keadaan semakin parah karena wahyu tidak kunjung turun, padahal denganya akan binasa orang yang binasa melalui bukti jelas dan akan hidup (juga) orang yang hidup dengan bukti yang nyata. Benar , orang-orang munafik berhasil menjalankan aksinya saat itu, senjata mereka benar-benar beracun, dan mereka yakin bahwa tuduhan itu akan berujung pada kebinasaan ‘Aisyah.

Akan tetapi, Allah berkehendak lain dan menyelamatkan umat Islam, terbukti dengan diturunkannya wahyu dari-Nya, Yang Maha mengetahui semua rahasia. Alhasil, terbebaslah ‘Aisyah ash-Shiddiqah binti Abu Bakar ash-Siddiq melalui ayat yang diturunkan dari atas langit ketujuh, yang akan terus dibaca oleh umat Islam di masjid-masjid mereka, sampai Allah mewarisi bumi dengan segala isinya.

Tersucikannya ‘Aisyah dari tuduhan tersebut akan dipahami oleh setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itulah yang dipahami oleh sahabat yang mulia, Abu Ayyub al-Anshari, tatkala isterinya, Ummu Ayyub, bertanya kepadanya: “Wahai Abu Ayyub, tidakkah engkau mendengar apa yang sedang diperbincangkan orang-orang tentang ‘Aisyah?” Beliau menjawab: “Ya. Hal itu hanya dusta belaka. Apakah kamu juga melakukannya, hai Ummu Ayyub?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah. Aku tidak melakukannya.” Abu Ayyub berkata: ‘Demi Allah, ‘Aisyah lebih baik daripada kamu.’”

Semoga Allah meridhai ‘Aisyah dan Ummul Mukminin lainnya serta mengumpulkan kita ke dalam golongan mereka di bawah bendera Rasulullah.

 Wafatnya ‘Aisyah

‘Aisyah meninggal pada malam selasa, tanggal 17 Ramadhan setelah shalat witir, pada tahun 58 Hijriyah. Para sahabat Anshar berdatangan pada saat itu, bahkan tidak pernah ditemukan satu hari pun yang lebih banyak orang-orang berkumpul padanya daripada hari itu, sampai-sampai penduduk sekitar Madinah turut berdatangan.

‘Aisyah  dikuburkan di Pekuburan Baqi’. Shalat jenazahnya diimami oleh Abu Hurairah dan Marwan bin Hakam yang saat itu adalah Gubernur Madinah. Semoga Alloh meridhoi Ummul Mukminin ‘Aisyah beserta seluruh Ummul Mukminin lainnya.

Baca Juga

Kenikmatan Dibalik Kenikmatan

MitraFM.com– Tak ada kenikmatan melebihi nikmat iman. Sangat beruntung orang-orang beriman karena dengan imannya ia ...