RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Saudah binti Zam’ah Istri Rasul yang Gemar Bersedekah  

Saudah binti Zam’ah Istri Rasul yang Gemar Bersedekah  

 

MitraFM.com– Nama lengkapnya adalah Saudah bintu Zama’ah bin Qois bin Abdu Syams bin Abdu Wudd Al-Amiriyyah radhiallahu’anha. Ibunya bernama Syamusy bintu Qois bin Zaid An-Najjariiyyah. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Luay bin Ghalib. Ia dinikahi Rasulullah  sepeninggal Khadijah kemudian menjadi istri satu-satunya selama kurang lebih tiga tahun hingga Rasul berumah tangga dengan Aisyah.

Saudah termasuk salah seorang wanita utama pada zamannya. Sebelum menikah dengan Rasulullah Saudah dinikahi oleh sepupunya bernama Sakran bin Amr Al-Amiry. Mereka berdua masuk Islam kemudian berhijrah ke Habasyah bersama rombongan sahabat yang lain. Ketika Sakran dan istrinya Saudah tiba di Habasyah Sakran jatuh sakit dan meninggal. Sehingga Saudah pun menjanda.

Pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zam’ah

Ketika suami Saudah meninggal Khaulah binti Hakim datang kepada Rasulullah dan bertanya “Wahai Rasulullah, maukah Anda menikah?”. “Dengan siapa?” tanya beliau. “Dengan Saudah binti Zam’ah  karena dia telah beriman padamu dan mengikutimu.” jawab Khaulah. Kemudian Rasulullah berkata “Baiklah, pinanglah ia untukku!” .

Dari Ibnu Abbas diceritakan bahwa Nabi meminang Saudah yang sudah mempunyai lima anak atau enam anak yang masih kecil.  Saudah berkata “Demi Allah, tidak ada hal yang dapat menghalangiku untuk menerimamu sedang engkau adalah sebaik-baik orang yang paling aku cintai. Tapi aku sangat memuliakanmu agar dapat menempatkan mereka anak-anakku yang masih kecil berada di sampingmu pagi dan malam.”.

Rasulullah berkata padanya  “Semoga Allah menyayangi engkau sesungguhnya sebaik-baik wanita adalah mereka yang menunggangi unta sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang bersikap lembut terhadap anak di waktu kecilnya dan merawatnya untuk pasangannya dengan tangannya sendiri.”.
Pernikahan Nabi dengan Saudah dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian.  Dikatakan dalam riwayat lain tahun kedelapan Hijriah dengan mahar sekitar 400 dirham.  Rasulullah kemudian mengajaknya berhijrah ke Madinah.

Saudah adalah tipe istri yang menyenangkan suaminya dengan kesegaran candanya. Dalam kisah yang diriwayatkan Ibrahim An-Nakha’i  Saudah berkata kepada. “Wahai Rasulullah tadi malam aku shalat di belakangmu ketika  ruku’ punggungmu menyentuh hidungku dengan keras maka aku pegang hidungku karena takut kalau keluar darah,”. Rasulullah tertawa mendengar ucapannya. Ibrahim An-Nakha’i berkata Saudah biasa membuat tertawa Rasulullah dengan candanya.

Saudah memahami bahwa pernikahannya dengan Nabi didasari karena rasa iba beliau kepadanya setelah kematian suaminya. Semua itu menjadi jelas ketika Nabi ingin menceraikannya secara baik-baik. Ketika Rasulullah menyampaikan keinginannya menthalaq Saudah merasa seakan-akan berada dalam mimpi buruk yang menyesakkan dadanya. Ia tetap ingin menjadi istri Sayyidul Mursalin sampai Allah membangkitkannya di hari kiamat kelak. Dengan suara yang lembut ia berbisik pada suaminya “Tahanlah aku ya Rasulullah dan demi Allah aku berharap Allah membangkitkan aku di hari kiamat dalam keadaan aku sebagai istrimu”.  Kemudian ia memberikan hari-hari gilirannya untuk Aisyah,  istri yang sangat disayangi beliau.

Rasulullah memperkenankan permintaan wanita mulia ini. Allah pun menurunkan ayat tentang hal ini dalam surat An-Nisa ayat 128 “….maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik.”

 Di antara keutamaan Saudah adalah ketaatan dan kesetiaannya yang sangat pada Rasulullah.  Ketika haji wada’ Rasul bersabda pada para istrinya. Ini adalah saat haji bagi kalian kemudian setelah ini hendaknya kalian menahan diri di rumah-rumah kalian. Sepeninggal Rasulullah  Saudah selalu di rumahnya dan tidak berangkat haji lagi sampai dia meninggal dunia.

Sedekah Kegemaran Saudah binti Zam’ah

Saudah dikenal dengan kemurahan hatinya dan suka bersedekah. Pada sebagian riwayat dikatakan bahwa Saudah paling gemar bersedekah di jalan Allah baik ketika Rasulullah masih hidup maupun pada masa berikutnya yaitu pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Saudah dikenal sebagai orang yang suka bersedekah. Umar bin Khathab pernah mengiriminya  sekantung penuh dirham.  Ia bertanya, “Apa ini?”. “Dirham yang banyak.” jawabnya. Kemudian Saudah membagi-bagikan dirham tersebut.

Suatu ketika Aisyah berkata  “Bahwa sebagian isteri-isteri Nabi SAW bertanya “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang paling cepat menyusulmu ?”. Nabi menjawab  “Yang terpanjang tangannya di antara kalian.”.  Kemudian mereka mengambil tongkat untuk mengukur tangan mereka.  Ternyata Saudah adalah orang yang terpanjang tangannya di antara mereka. Kemudian kami mengetahui bahwa maksud dari panjang tanganya adalah suka bersedekah. Saudah memang suka memberi sedekah dan dia yang paling cepat menyusul Rasulullah di antara kami.”. (HR.  Syaikhain dan Nasai).

Saudah juga memiliki akhlak yang terpuji. Ummul Mukminin Aisyah pernah berkata “Tiada seorang pun yang lebih aku kagumi tentang perilakunya selain Saudah binti Zam’ah yang sungguh hebat.”.

Saudah juga meriwayatkan sekitar lima hadits dari Rasulullah. Dan beberapa sahabat turut meriwayatkan darinya seperti Abdullah bin Abbas, Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman bin Sa’ad bin Zarah Al-Anshari. Abu Daud dan Nasa’i juga menggunakan periwayatan darinya.

Wafatnya Saudah binti Zam’ah

Saudah meninggal pada akhir kekhalifahan Umar di Madinah pada tahun 54 Hijriyah. Sebelum dia meninggal ia mewariskan rumahnya pada Aisyah. Ketika mendengar Saudah meninggal dunia Ibnu Abbas bersujud. Ia berkata  “Rasulullah SAW bersabda bila kau melihat suatu ayat, maka bersujudlah kalian, dan ayat yang paling agung daripada emas adalah para istri Nabi” .

Sikap mulia penuh keteladanan dari Istri Rasulullah ini patutlah kita jadikan contoh. Tak hanya gemar bersedekah tapi juga seorang istri tangguh yang siap berjuang bersama suaminya. Tak hanya berakhlak mulia tapi juga rela berkorban untuk kepentingan agamanya. Tak hanya pandai menyenangkan suaminya tapi juga mampu menjadi teladan sepanjang zaman bagi muslimah di setiap zaman.

 

Baca Juga

Syahidah Pertama, Sumayyah binti Khayyat

MitraFM.com– Tauhidnya begitu teguh, sekeras baja.  Cahaya iman di hatinya tak pernah redup. Ia rela ...