RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Perjuangan Asma’ binti Abu Bakar Membela Dakwah Nabi Muhammad

Perjuangan Asma’ binti Abu Bakar Membela Dakwah Nabi Muhammad

MitraFM.com– Asma’ binti Abu Bakar adalah putri amirul mukminin Abu Bakar ash-Shiddiq dari istrinya Qutailah binti Abdul Uzza al Amiriyyah yang telah diceraikan semasa jahiliah. Adik Asma’ Aisyah merupakan istri Nabi Muhammad. Ia lahir pada tahun 595 Masehi atau 27 tahun sebelum Hijrah. Asma’ lebih tua sepuluh tahun dari Aisyah Ummul Mukminin dan lebih muda dua puluh lima tahun dibandingkan Nabi Muhammad. Dia juga saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar. Asma’ merupakan isteri Zubair bin Awwam salah satu sahabat Nabi Muhammad. Ia adalah ibu dari Abdullah bin Zubair orang Islam pertama yang lahir di Madinah pasca hijrah.
Asma’ telah masuk Islam ketika berada di Makkah setelah 17 orang lainnya masuk Islam sebelum dirinya. Dia juga ikut membai’at mengucapkan janji setia pada Nabi SAW dan beriman dengan apa yang diajarkan padanya. Ia dikenal sebagai wanita terhormat yang menonjol dalam kecerdasannya, kemuliaan diri, dan kemauannya yang kuat.

Pengorbanan Asma’ binti Abu Bakar Membela Dakwah Nabi Muhammad

Ketika ayahnya Abu Bakar dan Rasulullah berangkat hijrah ke Madinah mereka berdua bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari. Kaum Quraisy yang kehilangan jejak mereka berdua mendatangi rumah Abu Bakar. Begitu pintu dibuka oleh Asma binti Abu Bakar Abu Jahal bertanya “Dimana ayahmu?”. “Demi Allah, aku tidak tahu dimana ayahku berada.” jawabnya.Abu Jahal sangat marah dengan jawaban singkat ini. Ia mengangkat tangannya dan menampar dengan keras pipi Asma sehingga anting-antingnya terlepas.  Setelah itu mereka berlalu dan memerintahkan untuk memblokade semua jalan keluar dari Makkah.

Tak lama kemudian kakeknya Abu Quhafah ayah Abu Bakar mendatangi cucunya tersebut karena ia mendengar kalau Abu Bakar telah meninggalkan Kota Makkah. Ia khawatir kalau cucu-cucunya terlantar setelah ditinggal pergi ayahnya. Ia menanyakan kepada Asma tentang harta yang ditinggalkan untuk biaya kehidupan mereka. Asma sangat memahami kekhawatiran yang dirasakan oleh kakeknya ini. Sebenarnya Abu Bakar telah membawa hampir semua harta kekayaannya sebanyak 6.000 dirham karena itu ia bersiasat untuk menenangkan hati kakeknya.  Ia meletakkan batu kerikil di lubang penyimpanan uang ayahnya dan menutupinya dengan kain. Setelah itu ia menuntun kakeknya yang telah buta dan meletakkan tangannya di lubang penyimpanan uang sambil berkata “Inilah harta yang ditinggalkan untuk kami, Kakek.”. Abu Quhafah meraba kerikil yang tertutup kain dalam lubang penyimpanan, dan menganggapnya sebagai uang dirham yang cukup banyak. “Baguslah kalau ia meninggalkan ini untuk kalian.”  ujar sang kakek tenang.

Setelah bersembunyi selama tiga hari di Gua Tsur Nabi dan Abu Bakar memutuskan berangkat ke Madinah. Asma mempersiapkan perbekalan, makanan dan minuman untuk perjalanan beliau dan ayahnya  lalu membawanya ke Gua Tsur.  Tetapi ia lupa tidak membawa tali untuk mengikatkan perbekalan tersebut ke tunggangan karena itu ia membelah dua ikat pinggangnya. Satu potong digunakan untuk mengikat perbekalan ke tunggangan satunya lagi dipakainya sebagai ikat pinggang. Melihat apa yang dilakukannya ini Nabi SAW menggelarinya “Dzaatun Nithaaqain” yangmemiliki dua ikat pinggang.

Semua peristiwa itu terjadi ketika Asma dalam keadaan hamil bahkan suaminya, Zubair bin Awwam telah terlebih dahulu hijrah bersama kaum muslimin lainnya sebagaimana diperintahkan Rasulullah SAW.  Sungguh pengorbanan yang tidak terkira dari seorang wanita perkasa teladan sepanjang masa. Semua itu dilakukannya dengan ringan dan ikhlas, karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Beberapa hari berlalu ketika suasana kota menjadi kembali tenang pasca hijrahnya Nabi dan Abu Bakar Asma dan saudara-saudaranya menyusul hijrah ke Madinah beserta beberapa orang muslim yang masih tertinggal.  Beberapa hari kemudian  ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abdullah. Kaum muslimin, baik dari kalangan Anshar ataupun Muhajirin menyambut gembira kelahiran Abdullah bin Zubair seakan-akan seperti memperoleh “durian runtuh”.  Mereka mengelu-elukannya bahkan membawanya keliling kota Madinah melewati kampung-kampung orangYahudi untuk menampakkan bahwa perataan orang-orang Yahudi yang telah menyihir kaum muslimin mandul adalah kebohongan belaka.

Kedermawanan Asma’ binti Abu Bakar

Suatu saat Asma mengunjungi Rasulullah dan berkata “Wahai Rasulullah, di rumahku tidak terdapat apa pun kecuali sesuatu yang diberikan oleh Zubair. Bolehkah aku menyedekahkan sesuatu yang sedikit itu kepada orang yang mengunjungi rumahku?”.

Nabi  menjawab  “Bersedekahlah) sesuai kemampuanmu dan jangan menahannya agar tidak ditahan pula suatu pemberian terhadapmu.”.

Tentang kedermawanan Asma’ Abdullah bin Zubair putranya berkata “Tidaklah kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma’. Kedermawanan mereka berbeda. Adapun Aisyah sesungguhnya dia suka mengumpulkan sesuatu, hingga setelah terkumpul semua, dia pun membagikannya. Sedangkan Asma’, dia tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya.”.

 

Asma’ mempunyai jiwa yang dermawan dan mulia. Ia tidak pernah menunda sesuatu hingga esok hari. Pernah suatu ketika dia jatuh sakit, kemudian dia segera memberikan seluruh harta yang dipunyainya. Ia pernah berkata  pada anak-anak dan keluarganya  “Berinfaklah kalian, dan bersedekahlah, dan jangan kau menunda keutamaan. Jika kalian menunda keutamaan, kalian tidak akan pernah mendapatkan keutamaan. Dan jika kalian memberi sedekah, kalian tidak akan kehilangan.”.

Perjuangan Asma’ binti Abu Bakar Meneguhkan Keimanannya

Asma’ juga turut serta dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair bin Awwam, dan menunjukkan keberaniannya. Ia membawa sebilah belati dalam pasukan Said bin Ash di masa fitnah, lalu meletakkannya di balik lengan bajunya. Ada yang bertanya padanya “Apa yang kau lakukan dengan membawa pisau ini?”. Ia menjawab, “Jika ada pencuri masuk, maka akan kutusuk perutnya.”.

Ia adalah motivator terunggul bagi putranya. Kata-kata Asma’ pada putranya menunjukkan makna dan pribadinya yang tak pernah gentar. Suatu saat putranya, Abdullah, datang menemuinya. Saat itu Asma’ dalam keaadan buta dan sudah berusia 100 tahun.

Abdullah berkata kepada ibunya “Wahai Ibu, bagaimana pendapatmu mengenai orang yang telah meninggalkanku, begitu juga keluargaku?”. Asma’ berkata, “Jangan biarkan anak-anak kecil Bani Umayyah mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan matilah secara mulia. Demi Allah, sungguh aku berharap akan terhibur mengenaimu dengan baik.”.

Kemudian Abdullah keluar dan bertempur hingga ia syahid. Konon, Al-Hajjaj berkata kepada Asma’ setelah Abdullah terbunuh  “Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap putramu?”. Asma’ menjawab  “Engkau telah merusak dunianya, namun dia telah merusak akhiratmu.”.

Tak hanya seorang muslimah yang tangguh, istri yang setia, ibu yang teguh pendirian, Asma’ juga meriwayatkan sekitar 58 hadits dari Rasulullah SAW riwayat lain mengatakan 56 hadits. Bukhari dan Muslim sepakat terhadap 14 hadits.  Sedangkan 4 hadits lainnya diriwayatkan oleh Bukhari sendirian sedangkan Muslim juga meriwayatkan sejumlah yang diriwayatkan Bukhari.

Asma’ wafat di Makkah dalam usia 100 tahun tak lama setelah putranya meninggal. Ia meninggal dalam keadaan mulia giginya tetap utuh tidak ada yang tanggal. Ia juga tidak pikun. Semoga Allah menempatkannya di Surga tertinggi bersama orang-orang yang Allah muliakan di sisi-Nya.

Baca Juga

Belajar Sehebat al Fatih

MitraFM.com– Dari sisi keshalihannya, Muhammad Al-Fatih disebutkan tidak pernah meninggalkan tahajud dan shalat rawatib sejak ...