RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Imam Malik Bintangnya Para Ulama

Imam Malik Bintangnya Para Ulama

MitraFM.com– Imam Malik lahir di Kota Madinah pada tahun 93 H itu memiliki nama lengkap Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin Al Harits Al-Ashbahi. Abu Amir adalah warga Yaman yang berhijrah ke Madinah untuk belajar dan mengikuti perjuangan Rasulullah SAW.

Sedangkan kakek Imam Malik yang juga bernama Malik adalah seorang tabi’in besar yang juga ahli fiqih kenamaan pada masanya. Ia adalah salah seorang dari empat tabi’in yang jenazahnya dibawa sendiri oleh Khalifah Utsman.

Ibunda Imam Malik adalah Aliyah Syuraik yang dalam sebuah riwayat diceritakan, telah mengandung janin Imam Malik selama dua atau tiga tahun di dalam perut sebelum melahirkannya di Kampung Zuwarmah di utara Madinah, pada zaman pemerintahan Khalifah Al-Walid Abdul Malik.

Ketika Malik lahir, Madinah terkenal sebagai pusat ilmu keislaman, dengan para tabi’in sebagai guru-gurunya. Kondisi sosial yang kondusif memupuk cinta Malik kecil terhadap ilmu al-Quran dan hadits sejak kecil. Setiap kali belajar satu hadits, bocah yang dikenal memiliki hafalan sangat kuat itu lalu mengikat sebuah simpul tali sebagai pengingat hadits yang dipelajarinya.

Imam Malik bin Anas dikenal berwajah tampan, berkulit putih kemerah-merahan, berperawakan tinggi besar, ber­jenggot lebat, pakaiannya selalu bersih, suka berpakaian berwarna putih, jika memakai imamah sebagian diletakkan di bawah dagunya dan ujungnya diuraikan di antara kedua pundaknya. Tokoh yang termasyhur dengan kecerdasan, keshalihan, keluhuran jiwanya, dan kemuliaan akhlaqnya itu juga gemar memakai wangi-wangian dari misik dan yang lainnya.

Imam Malik menuntut ilmu ketika masih berusia belasan tahun. Ketika remaja, Malik yang hidup dalam keadaan sangat miskin sering terpaksa menjual kayu dari atap rumahnya yang runtuh untuk mendapatkan uang bekal mengaji.

Ketika berusia 17 tahun, ulama yang konon berguru kepada 900 orang ulama kalangan tabi’in itu sudah sangat alim dalam ilmu agama. Di antara guru-gurunya adalah Imam Nafi’ bin Abi Nu’aim, Nafi’ al Muqbiri, Az Zuhri, Amir bin Abdullah bin Az Zubair, Ibnul Munkadir, dan Abdullah bin Dinar.

Dan ketika usianya menginjak 21 tahun, ia sudah dipercaya para ulama untuk berfatwa dan membuka majelis ta’lim. Banyak ulama yang mengambil ilmu riwayat darinya, meski saat itu usianya jauh lebih muda. Murid-muridnya antara lain Abdullah Ibnul Mubarak, Al-Qaththan, Abdullah bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin Yahya Al-Andalusi, Qutaibah Abu Mush’ab, Al Auza’i, Sufyan Ats-Tsaury, Sufyan bin Uyainah, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Abu Hudzafah As-Sahmi, dan Az-Zubairi.

Dipercaya menjadi seorang mufti di usia belia, tidak membuat Imam Malik lupa diri. Abu Mush’ab menceritakan, “Aku mendengar Malik berkata, ‘Aku tidak berfatwa hingga 70 orang bersaksi bahwa aku layak berfatwa.”

Imam Malik dikenal sebagai ulama yang sangat berhati-hati dalam berfatwa. Wallahu aa’lam.

Baca Juga

Juara 1 di Kabupaten, Santriwati ini Melaju ke Hifdzil Quran Tingkat Propinsi

Juara 1 di Kabupaten, Santriwati ini Melaju ke Hifdzil Quran Tingkat Propinsi

MitraFM.com – Juara 1 di Kabupaten, Santriwati ini Melaju ke Hifdzil Quran Tingkat Propinsi. Torehan prestasi menjadi ...