RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Keteguhan Iman Ruqayyah binti Muhammad

Keteguhan Iman Ruqayyah binti Muhammad

MitraFM.com– Ruqayyah dilahirkan sekitar 20 tahun sebelum Hijrah. Ia adalah putri kedua Rasulullah bersama Khadijah Al-Kubra. Sebelum masa kenabian Muhammad Ruqayyah dinikahkan dengan Utbah bin Abu lahab. Sebenarnya hal ini sangat tidak disukai Khadijah karena ia mengetahui perilaku ibu Utbah Ummu Jamil binti Harb yang terkenal berperangai buruk dan jahat. Ia khawatir putrinya akan memperoleh pengaruh buruk dari ibu mertuanya.

Ketika Rasulullah diangkat menjadi Nabi Abu Lahablah orang yang paling memusuhi Rasulullah dan Islam. Abu Lahab kerap menghasut orang-orang Makkah agar memusuhi Nabi dan para sahabat beliau. Istri Abu Lahab Ummu Jamil senantiasa berusaha mencelakakan Rasulullah dan memfitnahnya.

Atas perilaku Abu lahab dan permusuhannya yang keras terhadap RasulullahAllah menurunkan firman-Nya dalam Surat Al Lahab ayat 1 sampai 5 “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan begitu pula istrinya pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” .

Setelah ayat ini turun Abu Lahab berkata pada anaknya Utbah “Hubungan kita terputus jika engkau tidak menceraikan anak perempuan Muhammad.”. Utbah pun menceraikan Ruqayyah. Hal itu terjadi sesaat setelah pernikahan dan ia belum sempat disetubuhi.

Akhirnya Ruqayyah masuk Islam bersam Ibunya Khadijah. Setelah itu Utsman bin Affan menikahinya di Makkah. Hati Ruqayyah pun berseri-seri dengan pernikahannya ini karena Utsman adalah seorang Muslim yang beriman teguh, berbudi luhur, tampan, kaya raya, dan dari golongan bangsawan Quraisy.

Setelah pernikahannya itu penderitaan kaum Muslimin bertambah berat dengan tekanan dan penindasan kaum kafir Quraisy. Hingga akhirnya pada tahun kelima setelah nubuwah Allah membukakan jalan mereka berhijrah ke bumi Habasyah. Menuju perlindungan seorang raja yang tidak pernah menzalimi siapa pun yang ada bersamanya. Dengan berat hati Nabi mengizinkan Utsman beserta keluarganya dan beberapa Muslim lainnya berhijrah ke negeri Habasyah.

Rombongan muhajirin ke Habasyah membawa 11 orang wanita. Ini membuktikan bahwa para muslimah adalah bagian dari dakwah dan jihad di jalan Allah SWT. Mereka meninggalkan kesenangan hidup berupa harta anak dan keluarga serta negeri demi Allah.

Anas bin Malik meriwayatkan Utsman bin Affan keluar bersama istrinya Ruqayyah putri Rasulullah menuju negeri Habasyah. Lama Rasulullah tidak mendengar kabar keduanya. Kemudian datang seorang wanita Quraisy berkata “Wahai Muhammad aku telah melihat menantumu bersama istrinya.”. Nabi bertanya “Bagaimanakah keadaan mereka ketika kau lihat?”. Wanita itu menjawab “Dia telah membawa istrinya di atas seekor keledai yang berjalan perlahan sementara ia memegang kendalinya.”. Rasul kemudian bersabda  “Allah menemani keduanya. Sesungguhnya Utsman adalah laki-laki pertama yang hijrah membawa istrinya sesudah Luth AS.”.

Hijrah ke Habasyah adalah bagian dari peralihan dan kelanjutan perjuangan. Tujuan hijrah mereka adalah menyelamatkan agamanya ke negeri yang memberi ketenangan bagi agama mereka. Setibanya di Habasyah mereka memperoleh perlakuan sangat baik dari Raja Habasyah. Mereka hidup tenang dan tentram hingga datanglah berita bahwa keadaan kaum Muslimin di Makkah telah aman.

Mendengar berita itu disertai kerinduan kepada kampung halaman Utsman memutuskan bahwa kafilah Muslimin yang dipimpinnya akan kembali lagi ke Makkah. Mereka pun kembali. Namun apa yang dijumpai berbeda dengan apa yang mereka dengar ketika di Habasyah.

Saat itu mereka menyaksikan keadaan kaum Muslimin yang mendapatkan penderitaan lebih parah lagi. Pembantaian dan penyiksaan atas umat Islam semakin meningkat. Hingga rombongan ini tak berani memasuki Makkah pada siang hari. Ketika malam telah menyelimuti kota Makkah barulah mereka mengunjungi rumah masing-masing yang dirasa aman.

Ruqayyah pun pulang ke rumahnya melepas rindu terhadap orang tua dan saudara-saudaranya. Ternyata ibunya Khadijah telah wafat. Ruqayyah dilanda kesedihan yang sangat mendalam. Tak lama kemudian kaum Muslimin diperintahkan hijrah ke Madinah. Ruqayyah turut hijrah bersama suaminya Utsman hingga dia menjadi wanita yang berhijrah dua kali.

Tak berapa lama setelah mereka tinggal di Madinah bergema seruan Perang Badar. Para sahabat bersiap-siap menghadapi musuh-musuh Allah. Namun bersamaan dengan itu Ruqayyah binti Rasulullah diserang sakit. Rasulullah memerintahkan Utsman bin Affan tetap tinggal menemani dan merawat istrinya.

Maut menjemput Ruqayyah ketika Rasulullah masih berada di medan Badar. Ruqayyah wafat pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriah. Berita wafatnya Ruqayyah dikabarkan oleh Zaid bin Haritsah ke Badar. Pada saat wafatnya Ruqayyah Rasulullah berkata “Bergabunglah dengan pendahulu kita Utsman bin Maz’un.”.

Menjelang pemakaman Ruqayyah kaum Muslimin di Badar meraih kemenangan. Berita kemenangan kaum Muslimin dibawa pula oleh Zaid bin Haritsah. Ketika kembali ke kota Madinah Rasulullah disambut berita pemakaman Ruqayyah.

Ketika Ruqayyah wafat banyak wanita di Madinah menangis sedih hingga membuat Umar bin Khaththab mengambil cemetinya untuk menghentikan tangisan mereka. Namun Rasulullah mengambil cemeti yang ada di tangan Umar seraya bersabda “Wahai Umar biarkanlah mereka menangis. Tapi hati-hatilah dengan bisikan syetan. Yang datang dari hati dan mata adalah dari Allah dan merupakan rahmat. Yang datang dari tangan dan lidah adalah dari syetan.”.

Ruqayyah putri Rasulullah yang hidup dalam waktu sangat singkat. Ketabahannya dalam mengemban amanah Allah adalah tauladan yang tidak pernah usang. Keteguhan imannya layak diteladani para muslimah sepanjang zaman. Keimanannya yang kokoh membuatnya mulia. Alangkah indahnya jika setiap jengkal keimanan kita bisa meneladani setiap hembusan nafas keimanannya. Dan semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Baca Juga

Syahidah Pertama, Sumayyah binti Khayyat

MitraFM.com– Tauhidnya begitu teguh, sekeras baja.  Cahaya iman di hatinya tak pernah redup. Ia rela ...