RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Halimah Sa’diyah, Ibu Susu Rasulullah SAW

Halimah Sa’diyah, Ibu Susu Rasulullah SAW

MitraFM.com– Tangis bayi yang baru lahir terdengar dari sebuah rumah di kampung Bani Hasyim Makkah bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awwal 571 M. Bayi itu lahir dari rahim Aminah dan  digendong seorang bidan yang bernama Syifa’ ibunda sahabat Nabi Abdurrahman bin Auf. Aminah tersenyum lega ketika ia tahu bayinya laki-laki. Tetapi seketika itu ia teringat mendiang suaminya Abdullah bin Abdul Muthalib yang telah meninggal enam bulan sebelumnya di Yastrib Madinah. Putranya diberi nama Muhammad Yang Terpuji oleh kakeknya.

Kelahiran bayi yatim yang kelak menjadi Rasul terakhir itu dituturkan dalam Alquran Surat Ad Dhuha ayat 6. ”Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu?”

Aminah ibunda Muhammad kecil ini adalah seorang janda miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak Barakah Al-Habsyiyah Ummu Aiman). Sementara sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu bayi yang baru dilahirkan akan disusukan kepada wanita lain. Wanita yang dipilih biasanya wanita dusun. Tujuannya agar si anak dapat hidup di alam yang segar mempelajari bahasa Arab yang baku dan  sebagai upaya untuk menjaga keturunan baik jumlah maupun mutunya.

Dengan menyerahkan bayinya kepada wanita lain untuk disusui kaum wanita Quraisy berharap akan segera hamil lagi. Sebab menyusui bayi dianggap sebagai hal yang bisa menghambat sementara kesuburan seorang wanita kala itu. Dengan menitipkan bayinya, mereka berharap bisa memiliki banyak keturunan dan salah satu kebanggaan orang-orang Makkah adalah banyaknya keturunan.

Faktor kesehatan juga menjadi alasan kaum Quraisy menitipkan bayinya ke wanita dari suku Badui. Wilayah yang didiami suku Badui memiliki udara yang segar, air mata yang jernih, dan lingkungan yang sehat. Sementara Makkah terutama di bulan-bulan suci disesaki oleh para peziarah yang membawa berbagai macam kuman penyakit. Belum lagi darah hewan-hewan yang disembelih untuk persembahan bagi para berhala bangkainya dibiarkan membusuk di depan patung-patung dan daging-daging sesajian diletakkan di berbagai sudut kota Makka.

Kondisi inilah yang membuat Aminah binti Wahab berkeinginan menitipkan putera kesayangannya Muhammad SAW kepada salah satu wanita Badui. Sembari menunggu jasa wanita yang menyusui Aminah menyusui sendiri Muhammad kecil  selama tiga hari dilanjutkan oleh Tsuwaibah budak Abu Lahab paman Nabi Muhammad. Selanjutnya Muhammad dan bayi kalangan terpandang Arab akan disusui oleh murdi’at para wanita yang menyusui bayi. Muhammad ditawarkan kepada murdi’at dari Bani Sa’ad yang sengaja datang ke Makkah mencari bayi-bayi yang masih menyusu dengan harapan mendapat bayaran dan hadiah. Namun mereka menolak karena Muhammad adalah anak yatim. Diantara mereka ada Halimah Sa’diyah yang belum mendapatkan seorang bayi yang akan disusui karena itu ia mengambil Muhammad sebagai anak susuannya.

ibu susu Rasulullah ini bernama lengkap  Halimah binti Abdullah bin Al-Harits As-Sa’diyah. Suaminya bernama Al-Harits bin Abdul Izzi bin Rifa’ah As-Sa’di. Anak-anaknya adalah Abdullah, Anisah dan Khadzdzamah. Anak-anak Al-Harits adalah saudara sepersusuan Nabi. Halimah juga menyusui Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Munthalib anak paman Rasulullah.

Halimah yang berarti lemah lembut membawa Muhammad ke dusunnya. Keberadaan Muhammad kecil memberi berkah kepada keluarga Halimah bahkan bagi kabilahnya. Semula Halimah hidup serba kekurangan. Tapi semenjak mengasuh Rasulullah kehidupan rumah tangga Halimah berubah total penuh kedamaian kegembiraan dan berkecukupan.

Dua tahun kemudian Halimah membawa Muhammad kecil mengunjungi ibunya. Halimah memohon agar Muhammad diizinkan tinggal kembali bersama Bani Sa’ad. Aminah pun menyetujui. Selama empat tahun Muhammad bersama Bani Sa’ad. Dusun itu bertambah keberkahan. Domba-domba yang dipelihara Halimah menjadi gemuk dan banyak memberikan air susu walaupun rumput di daerah mereka tetap gersang. Karena itulah warga menyuruh anak-anak menggembalakan domba-domba mereka di dekat domba milik Halimah. Harapannya agar domba milik mereka bisa berubah gemuk dan mengeluarkan banyak susu. Namun hasilnya tetap saja sama, domba para tetangga itu tetap kurus kering.

Hal lain yang tak kalah menakjubkan adalah ketika mengambil Muhammad sebagai anak susuan susu Halimah bertambah banyak. Ia pun heran. Sebab selama ini susunya bukan tidak ada tapi tidak begitu banyak. Tapi semenjak mengasuh anak Fatimah air susunya berlimpah. Anehnya lagi ketika sudah menyusu di susu sebelah dan hendak diberikan sebelah lain lagi Muhammad menutup rapat mulutnya. Halimah faham Muhammad menginginkan susu yang sebelah untuk saudara sesusuannya Damrah.

Sejak kecil Allah memang sudah memasukkan jiwa keadilan pada Muhammad. ia tidak ingin mengambil bagian yang bukan untuknya. Muhammad kecil pun tak pernah menangis tidak seperti anak kecil lainya yang sering menangis. Semenjak dengan Halimah Muhammad tak pernah minta makanan diberi atau tidak diberi makan beliau tidak minta. Tidak seperti anak-anak lainnya yang jika lapar akan meminta makan.

Muhammad kecil baru dikembalikan ke Makkah setelah terjadi peristiwa pembelahan dada.

Peristiwa pembelahan dada Rasulullah saat masih kecil merupakan peristiwa yang dituturkan oleh semua sejarawan Islam. Salah satunya diriwayatkan oleh imam Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah didatangi oleh malaikat Jibril saat beliau sedang bermain dengan anak-anak sebayanya. Malaikat Jibril mengambil beliau, membaringkannya, membelah dadanya, mengeluarkan jantung (hati)nya dan mengeluarkan segumpal darah yang menggantung dari dalam jantung (hati)nya. Malaikat Jibril berkata “Ini adalah bagian setan darimu.” Malaikat Jibril kemudian mencuci jantung (hati) beliau dalam sebuah wadah yang terbuat dari emas dengan air zamzam kemudian menyatukan jantung (hati)nya dan mengembalikannya ke tempatnya semula. Anak-anak sebaya yang bermain bersama beliau bergegas mendatangi ibu susuan beliau dan berkata “Muhammad telah dibunuh!”. Mereka pun beramai-ramai mendatangi beliau dan saat itu wajah beliau berubah pucat karena takut. Anas bin Malik berkata “Saya telah melihat bekas jahitan itu pada dada beliau.”.

Semenjak peristiwa pembelahan dada itu Halimah khawatir dengan keselamatan putra susuannya. Ia dan suaminya sepakat mengembalikannya pada sang bunda.

Semenjak diserahkan pada Aminah Halimah tidak mengetahui lagi kabar tentang Muhammad.  Sebab mendapat informasi di zaman itu sangatlah susah. Baru ketika usia Muhammad 40 tahun Halimah mendengar kabar bahwa anak susuannya menjadi Rasul Allah. Namun ia kesulitan menemui Rasulullah. Halimah memeluk Islam dari orang lain dan bukan dari Rasulullah sendiri. Hingga suatu hari Halimah dapat berjumpa kembali dengan putra susuannya yang telah menjadi utusan Allah. Ia merasakan kebahagiaan luar biasa. Selepas itu Halimah meninggal dunia.

Halimah Sa’diyah meninggal di Madinah Munawwarah dan dimakamkan di Baqi’. Makam Halimah sangat dikenal di sana. Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama para sahabat Nabi lainnya. (Kang Harits/ MitraFM.com)

Baca Juga

Biografi Singkat Mufassir

MitraFM.com– Sejatinya, ulama penulis tafsir al Qur’an begitu banyak. Setiap jaman selalu muncul ulama besar ...