RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Catatan Siar » Cinta dan Pengorbanan Zainab binti Rasulullah Saw

Cinta dan Pengorbanan Zainab binti Rasulullah Saw

MitraFM.com– Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama. Kisah cinta dan pengorbanan inilah yang dirasakan putri pemimpin para nabi Zainab binti Rasulullah.

Zainab binti Muhammad bin ‘Abdillah terlahir dari rahim ibunya seorang wanita kebanggan Suku Quraisy Khadijah binti  Khuwailid saat ayahnya memasuki usia tiga puluh tahun. Semasa hidup ibunya  sang putri yang menawan ini dipersunting seorang pemuda Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi. Ia putra Halah binti Khuwailid saudari perempuan Khadijah. Ketika itu Khadijah menghadiahkan seuntai kalung pada putri tercintanya. Dari pernikahannya lahir Umamah dan ‘Ali dua putra-putri Abul ‘Ash.

Tatkala cahaya Islam merebak Allah membuka hati Zainab untuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan yang saling mencintai di atas dua jalan yang berbeda menjadi awal mula ujian cinta dan pengorbanan Zainab binti Muhammad SAW.

Orang-orang musyrik mendesak Abul ‘Ash menceraikan Zainab namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Ketika tiba saat Rasulullah hijrah ke Madinah Zainab tidak bisa mengikuti sang ayah berhijrah karena suami maupun keluarganya tidak mengijinkan.

Hingga perang Badar berkecamuk pada Ramadhan kedua setelah hijrah Zainab adalah satu-satunya Muslimah yang tinggal bersama kafir Qurays di Makkah. Dalam pertempuran itu terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.

Penduduk Makkah mengirim tebusan demi membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab untuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu Rasulullah terkenang pada Khadijah yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Beliau pun berkata pada para shahabat “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan lakukanlah hal itu.”. Para shahabat menjawab “Baiklah ya Rasulullah!”.

Mereka pun  melepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu. Rasulullah meminta Abul ‘Ash berjanji agar membiarkan Zainab hijrah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah bersama salah seorang Anshar sembari berkata “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab lalu bawalah ia kemari.”.

Zainab binti Rasulullah rela berpisah dari suami yang dicintainya di atas jalan Islam. Ia rela  meninggalkan suaminya yang masih berkubang kesyirikan tanpa ragu. Cinta tak membutakan hatinya. Allah dan Rasul-Nya lebih ia pilih dibandingkan cinta yang tak terbingkai keimanan.

Menjelang peristiwa Fathu Makkah Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya rombongan itu bertemu dengan 170 orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah menghadang rombongan dagang itu. Pasukan kaum muslimin berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu.

Namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri.

Ketika gelap malam merambah Kota Madinah Abul ‘Ash diam-diam menemui istrinya Zainab binti Rasulullah meminta perlindungan. Ketika waktu Shubuh tiba Rasulullah dan para shahabat berdiri menunaikan Shalat Shubuh. Saat itu Zainab berseru dengan suara lantang “Wahai kaum muslimin sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’!”. Usai shalat Rasulullah menghadap para shahabat sembari bertanya “Kalian mendengar apa yang aku dengar?”. “Ya, wahai Rasulullah.”. Beliau berkata lagi “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apa pun sampai aku mendengar apa yang baru saja kalian dengar.”. Beliau bergegas menemui putrinya dan berpesan “Wahai putriku, muliakanlah dia namun jangan sekali-kali dia mendekatimu karena dirimu tidak halal baginya.”. Zainab menjawab “Sesungguhnya dia datang semata-mata untuk mencari hartanya.”.

Setelah itu Rasulullah mengumpulkan pasukan Zaid bin Haritsah dan berkata “Sesungguhnya Abul ‘Ash termasuk keluarga kami sebagaimana kalian ketahui dan kalian telah mengambil hartanya sebagai fai’ yang diberikan Allah kepada kalian. Namun aku ingin kalian berbuat kebaikan dan mengembalikan harta itu kepadanya. Akan tetapi kalau kalian enggan maka kalian lebih berhak atas harta itu.”. Para shahabat menjawab “Wahai Rasulullah kami akan kembalikan harta itu padanya.”.

Seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya dan tidak berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah pada pemiliknya.  Ia pun bertanya “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?”. Mereka menjawab “Semoga Allah memberikan balasan yang baik padamu.  Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.”.

Kemudian Abul ‘Ash pun menegaskan  “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya!. Demi Allah tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing aku masuk Islam.”. Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah hingga bertemu dengan Rasulullah dalam keadaan Islam.

Cinta suci tak lekang oleh waktu dan tak akan habis ditelan zaman. Itulah gambaran cinta dan pengorbanan putri Rasulullah Zainab. Enam tahun bukanlah rentang waktu yang sebentar. Akhir penantian yang sekian lama pun menjelang. Rasulullah mengembalikan putri tercintanya Zainab pada suaminya Abul ‘Ash bin Ar- Rabi’ dengan nikahnya yang dulu tanpa menunaikan kembali maharnya. Dua insan kini bersama meniti jalan mereka dalam keimanan yang kokoh.

Namun Allah telah menetapkan taqdir-Nya. Tak lama setelah pertemuan itu Zainab binti Rasulullah kembali ke hadapan Rabb-nya. Tepat tahun ke-8 setelah hijrah meninggalkan suami tercinta dan keluarganya.

Semoga kisah cinta Zainab dan Abul Ash bisa menjadi teladan agar kita tak menggadaikan iman hanya demi cinta. Islam melarang pernikahan beda keyakinan. Pernikahan seperti itu bernilai zina sepanjang waktu. Jangan biarkan cinta memperbudak kita. Ingatlah cinta kepada manusia tidak ada yang abadi apabila tidak berlandaskan rasa cinta pada Allah.

Baca Juga

Waktu-waktu yang Mustajab

MitraFM.com– Manusia makhluk yang lemah. Ia tidak sanggup memikul beban hidupnya sendiri. Ia membutuhkan tempat ...