RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Ibunda Imam Asy Syafi’i

Ibunda Imam Asy Syafi’i

MitraFM.com– Sebagai orang Indonesia tentu kita tak asing lagi dengan sosok Imam Asy Syafi’i. Seorang ulama mazhab yang memiliki khazanah keilmuan yang tinggi Di negeri ini pun mayoritas memilih pendapat Imam asy Syafi’i sebagai mazhab utamanya. Imam Asy Syafi’i telah menghafal Al-quran sejak usia 7 tahun menghafal banyak hadits semenjak berusia 9 tahun dan telah menjadi mufti sejak usia 14 tahun.
Imam Ahmad bin Hambalsalah satu murid Imam Asy Syafi’i pernah memberikan sanjungan pada gurunya “Ia ibarat matahari bagi bumi, dan kesehatan bagi badan.Adakah yang bisa menggantikan keduanya?”.

Rahasia sukses seorang Imam asy Syafi’i tak terlepas dari seorang wanita yang selalu ada dibelakangnya selalu berjuang dan berkorban untuknya selalu memberikan pendidikan terbaik dan memfasilitasi pendidikan terbaik untuknya. Ya, wanita itu adalah ibunda imam syafi’i Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah. Memiliki nasab ke suku Al-Azd di Yaman, seperti dikuatkan oleh Al-Baihaqi. Sedangkan menurut sejarawan lain Fatimah adalah Ahlul Bait. Keturunan Rasulullah dari jalur Ubaidillah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah inilah madrasah pertama bagi Asy Syafi’i. Sejak ia berumur dua tahun Fatimah terpaksa membesarkan buah hatinya sendirian. Dikarenakan sang suami, Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i meninggal di Gaza Palestina.

Fatimah dikenal sosok yang cerdas, tegar dan tidak pernah mengeluh. Ketika suaminya wafat tak sedikit pun harta ia warisi. Dengan kondisi serba kekurangan, ia berjuang memberikan yang terbaik bagi anak semata wayangnya. Keinginannya hanya satu kelak buah hatinya menjadi figur hebat dan bermanfaat bagi umat.

Fatimah mengajak Syafi’I kecil pindah ke Makkah. Kota suci ini dipilih agar Fatimah bisa mempertemukan Syafi’i dengan keluarga besarnya dari Suku Quraisy. Syafi’i pernah menuturkan langkah ini ditempuh sang bunda karena ia khawatir hidup Syafi’i sia-sia. “Ibuku ingin agar aku seperti keluarga di Makkah. Ibuku takut aku kehilangan nama besar keluargaku bila tetap tinggal dan besar di luar Makkah.”.
Tak hanya itu Fatimah ingin putranya belajar bahasa Arab langsung dari Suku Hudzail. Konon kabilah ini terkenal dengan kefasihan bahasa arabnya. Ajaran ini kelak membekas dan  Imam Syafi’i bukan hanya dikenal sebagai ahli fikih, melainkan pakar seni sastra dengan kumpulan puisi gubahannya.

Imam Asymal seorang pakar bahasa Arab berkata “Aku membaca syair-syair dari Suku Hudzail di depan pemuda dari Quraisy yang bernama Muhammad bin Idris (nama Imam Syafi’i).”.

Di Makkah, Fatimah tinggal bersama Syafi’i kecil di Kampung Al-Khaif. Nasabnya memang tinggi dan terhormat tapi taraf ekonomi mereka di level bawah. Syafi’i menuturkan sendiri tentang kondisi ibunya yang miskin. “Aku tumbuh sebagai seorang anak yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta padanya yang bisa diberikan kepada guruku. Ketika itu guruku merasa lega apabila aku menggantikannya saat ia pergi,”.

Kemiskinan tak pernah membuat Syafi’i minder. Apalagi patah semangat. Karena sang ibunda selalu berada di sampingnya mendoakan, mendampingi, serta memberi semangat. Imam Syafi’i berkata, “Tidak akan berhasil orang yang menuntut ilmu, kecuali menuntutnya dalam keadaan susah.”. Dari kondisi miskin inilah Fatimah mengajarkan agar anaknya kelak memahami perasaan dan kehidupan masyarakat miskin.

Sungguh beruntung Syafi’i dikaruniai kecerdasan otak. Anugerah inilah yang dimaksimalkan Fatimah. Ia paham betul bahwa daya tangkap anaknya sangat luar biasa. Ia pun turun langsung mengajar dan membimbing hafalan Alquran buah hatinya itu. Luar biasa Syafi’i sukses menghafalnya di usia tujuh tahun.

Agar lebih berkualitas Fatimah mengajak putranya menyetor hafalan ke Syekh Ismail Qusthanthin di Makkah juga belajar tafsir dari Abdullah bin Abbas. Setelah itu, Imam Syafi’i mulai menghafal hadis-hadis Rasulullah.

Dedikasi dan kedisiplinan Fatimah mencetak kepribadian dan intelektual sang anak begitu kuat. Sering kali, ia tak membukakan pintu rumah dan menyuruh anaknya kembali mencari ilmu.

 

Tak hanya ilmu dan fasilitasnya yang diberikan untuk putranya. Asupan makanan dan minuman yang masuk ke tubuh putranya pun amat ia jaga. Pernah suatu ketika Syafi’i kecil ditinggal  sendiri oleh ibunya ke pasar. Ketika sendirian di rumah, syafi’i kecil pun menangis. Melihat hal ini tetangga Imam Syafi’i yang kebetulan sedang menyusui merasa iba.  ia pun menyusui  syafi’i kecil. Sesampainya di rumah setelah mengetahui anaknya telah disusui tetangganya ia merasa khawatir kalau ada hal yang tidak halal masuk ke tubuh anaknya melalui susu tetangganya. Ibu Imam Syafi’i pun mengangkat tubuhnya terbalik dan mengguncang-guncang perutnya sampai semua yang masuk kedalam perutnya tadi keluar lagi.

 

Begitulah ibunda Imam Syafi’i menjaga anaknya dari hal-hal tidak halal yang masuk ke perutnya. Ibunda Imam Syaf’i paham betul kalau ASI sangat berpengaruh terhadap watak, karakter dan kepribadian anaknya kelak. Karena itu ia sangat berhati-hati terhadap air susu atau makanan yang masuk kedalam perut putranya.

Ketika Imam Asy Syafi’I berumur 15 tahunmuncul keinginannya menuntut ilmu di luar Makkah. Ia dilanda kebimbangan lantaran harus meninggalkan sang ibu seorang diri. Fatimah adalah ibu yang luar biasa ia memberikan dukungan penuh pada putranya. Ibundanya berkeyakinan, Allahlah yang akan menjaganya. Ia membekali putranya dengan rentetan doa. Kedua tangannya memeluk erat sang putra disertai linangan air mata.

Fatimah binti Ubaidillah tak hanya dikenal sukses mencetak generasi handal. ia juga terkenal sebagai ahli ibadah. Sosok yang jenius, tegas, dan disiplin. As-Subki meriwayatkan, Ibunda Syafi’i ini pernah menjadi saksi di pengadilan bersama Ummu Basyar Al-Marisi. Celakanya, sang hakim tidak mempertemukan saksi itu dalam lokasi yang sama. Fatimah pun menegur hakim “Wahai Hakim, engkau tidak berhak melakukan hal itu, karena Allah berfirman, ‘Jika seorang lupa, seorang lagi dapat mengingatkannya’.”. Teguran itu membuat hakim tak lagi memisahkan para saksi.  Bagi As-Subki, peristiwa ini menunjukkan betapa Fatimah memiliki ide yang hebat, kuat, dan inovatif.

 

Sungguh Fatimah binti Ubaidillah adalah sosok ibu hebat yang melahirkan anak hebat. Ialah sosok muslimah teladan yang layak diteladani para muslimah sepanjang zaman. Ia melahirkan generasi emas, mendidiknya, serta mendampinginya hingga menjadi sosok yang bermanfaat bagi umat pada masanya atau pun sesudahnya. Semoga Allah menempatkannya di surga bersama para wanita-wanita yang dimuliakan Allah lainnya.

Baca Juga

Makanan Pokok untuk Suku Anak Dalam

Makanan Pokok untuk Suku Anak Dalam

MitraFM.com – Makanan Pokok untuk Suku Anak Dalam. Hidup seperti orang pada umumnya tentu pilihan yang tidak ...