RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Khaulah Binti Azur, Pedang Allah dari Kalangan Perempuan

Khaulah Binti Azur, Pedang Allah dari Kalangan Perempuan

MitraFM.com– Islam telah melahirkan banyak pahlawan. Sebuah agama yang turun di gurun pasir nan gersang bisa mengubah peta peradaban dunia.  Lahirnya para pahlawan membuat Islam bisa menggema ke seantero bumi. Bukan kaum lelaki saja yang bisa menjadi pahlawan Islam. Kaum perempuan pun bisa menjadi sosok yang menginspirasi bahkan di medan perang.

Salah satu sosok pahlawan Muslimah di medan jihad adalah Khaulah binti Azur. Jika julukan “Pedang Allah” untuk kalangan laki-laki disematkan kepada Khalid bin Walid maka Khaulah adalah “Pedang Allah” dari kalangan perempuan. Keberaniannya amat besar. Bahkan, ketangguhan Khaulah saat berjihad melawan Romawi di medan jihad menginspirasi pasukan kaum Muslimin yang berisi para lelaki.

Awalnya Khaulah bertugas seperti halnya mukminah lain sebagai petugas medis. Mengobati pasukan Muslimin yang terluka.  Namun, saat mengetahui kakak kandungnya, Dhirara bin Azur, tertawan musuh, keberanian Khaulah bangkit.

Khaulah dan kakaknya sangat dekat. Dhirara-lah yang mengajarkan ilmu perang pada Khaulah. Dhirara yang juga pasukan tentara Islam sering kali menceritakan kepada adiknya bagaimana kemenangan Islam di setiap medan perang. Dari pengalaman kakaknya inilah keinginannya berperang semakin kuat.

Keberanian Khaulah bukan tiba-tiba melainkan sejak kecil ia telah belajar berkuda, menombak, dan berpedang. Khaulah sendiri cukup mumpuni memainkan senjata. Fisiknya pun menunjang. Ia tegap, tinggi, dan gesit.

Khaulah turut andil dalam membebaskan sang kakak. Diambillah senjata, kemudian ia menutup seluruh tubuhnya kecuali matanya saja. Berpaculah Khaulah menyeruak ke pasukan musuh. Pasukan yang saat itu dipimpin Khalid bin Walid sedang terpukul. Mereka terdesak oleh serangan raksasa tentara Romawi.

Tiba-tiba pasukan kaum muslimin terkesiap. Mereka melihat dalam barisan kaum Muslimin, seorang ksatria yang gagah berani datang menunggang kuda. Ia menyergap setiap musuh Allah dan membunuhnya. Tak tampak ketakutan sama sekali di matanya. Pasukan kaum Muslimin pun terheran siapakah gerangan ksatria yang berani menyerang saat pasukan terdesak?.

Tidak tampak wajahnya hanya sekelebat pandangan mata. Sang panglima, Khalid bin Walid pun turut penasaran. Diikutilah sang penunggang kuda tersebut di tengah-tengah pertempuran. Saat mendekati pejuang misterius tersebut Khalid berkata “Demi Allah yang telah melindungi seorang pejuang yang berani membela agama-Nya dan menentang kaum musyrik. Tolong bukalah wajahmu!”. Khaulah belum mau menjawab pertanyaan sang panglima perang karena masih banyak musuh yang harus dihadapinya.

Khalid mengejar, lalu mengulangi pertanyaannya. Khaulah pun menjawab “Aku Khaulah binti Azur. Aku melihat Kakakku, Dhirara tertangkap. Aku datang untuk menolongnya, membebaskan Kakakku yang berperang di jalan Allah.”. Para pejuang Islam terkejut mengetahui pejuang misterius itu ternyata seorang perempuan.

Kehadiran Khaulah di tengah medan pertempuran memberi andil dalam memenangkan perjuangan tentara Islam. Namun nasib kakaknya belum jelas karena sampai akhir peperangan keberadaannya belum diketahui. Teka-teki itu pun terjawab setelah Romawi mengajak damai. Dhirara ditawan di Homs karena telah membunuh anak raja dan banyak tentara Romawi.

Khaulah tak mau tinggal diam. Ia memohon kepada pimpinan perang agar diizinkan bergabung membebaskan kakaknya.  Khaulah kembali berlaga di medan perang dengan jubah serba tertutup. Gema takbir dan keyakinan kuat pada pertolongan Allah berhasil menyelamatkan Dhirara.

Selain berani di medan perang Khaulah dikenal memiliki strategi jitu dalam menghadapi musuh. Ini terbukti saat ia bersama sejumlah Muslimah lainnya menjadi tawanan Perang Sahura. Ketika itu, Khaulah bergabung sebagai tim kesehatan dan logistik. Sialnya, para mujahidah ini ditangkap tentara Romawi.  Mereka dikurung berhari-hari di bawah pengawalan ketat pasukan musuh.
Walaupun tanpa senjata di tangan, Khaulah memberontak. Ia menyusun strategi agar bisa menyelamatkan diri bersama teman-temannya. Langkah awal yang dilakukan Khaulah ialah memotivasi mereka agar mau bebas sebelum dilecehkan para tentara musuh. “Wahai para pejuang Allah, apakah kalian rela menjadi tukang pijit tentara Romawi?. Apakah saudara semua mau menjadi hamba orang-orang kafir yang nyata-nyata dilaknat Allah?”. Relakah saudara semua dihina, dilecehkan bangsa Romawi?. Di mana harga diri kalian sebagai Muslimah?”.

Para mujahidah pun sepakat dengan apa yang dilontarkan Khaulah “Demi Allah sebagai Muslimah, kami mempunyai harga diri. Tapi, apa yang bisa kita lakukan tanpa senjata sedangkan tentara siap menyerang kalau kita memberi perlawanan,”.

Khaulah tidak kehilangan akal. Walaupun bukan senjata sesungguhnya Khaulah mengajak para mujahidah memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya, seperti tiang-tiang dan tali kemah.

Hal paling penting adalah para mujahidah yakin pertolongan Allah pasti datang untuk melepaskan para pejuang Muslimah dari tentara Romawi. Ia menegaskan “Ingatlah, syahid lebih baik bagi kita daripada dihinakan kaum kafir!”.

Setelah menyusun strategi dan menentukan waktu yang tepat Khaulah memimpin ‘pasukannya’. Sebelum bergerak Khaulah berpesan “Wahai saudara-saudari, jangan sekali-kali gentar dan takut! Kita semua harus bersatu dalam perjuangan ini. Patahkan tombak mereka, hancurkan pedang mereka, ucapkan takbir!”.

Khaulah dibantu Ifra binti Ghaffar, Umi binti Utbah, Salmah binti Zari, Ran’ah binti Amalun, dan Salmah binti Nu’man memukul pengawal dengan tiang hingga tewas. Satu tombak kini dalam genggaman Khaulah. Sementara itu mujahidah lain menyerang para pengawal yang berkeliaran di sekitar penjara. Rupanya para pengawal tidak siap menghadapi serangan para mujahidah yang membuat mereka lari tunggang langgang. Khaulah berhasil memimpin penyerangan dan membebaskan semua tawanan.

Khaulah binti Azur adalah muslimah istimewa. Ialah seorang muslimah yang mematahkan anggapan orang-orang masa kini bahwa para muslimah terpasung dalam keislamannya. Lihatlah pada era kejayaan Islam para muslimah pun memiliki kontribusi istimewa. Mereka juga berjihad di jalan Allah dengan kedua tangan mereka. Mereka pun berjihad untuk membela kehormatan dan kesucian agama mereka.

Islam agama mulia. Perempuan pun mulia dengan Islam. Semoga Allah memuliakan Islam dengan hadirnya Khaulah binti Azur lain di abad ini.

Baca Juga

Biografi Singkat Mufassir

MitraFM.com– Sejatinya, ulama penulis tafsir al Qur’an begitu banyak. Setiap jaman selalu muncul ulama besar ...