RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Saudari ”Singa Allah”

Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Saudari ”Singa Allah”

MitraFM.com- Kepribadiannya sungguh kuat, tutur katanya begitu fasih, pemikirannya amat cerdas. Begitulah sejarah peradaban Islam menggambarkan sosok Muslimah pemberani bernama Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Ia adalah bibi Rasulullah SAW, yang begitu gigih membela agama Islam di awal perkembangannya.

Mujahidah yang dikenal sebagai pejuang yang sabar dan penyair ulung itu bernama lengkap Shafiyyah binti Abdul Muththalib bin Hisyam bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab Al-Qurasyiyah Al-Hasyimiyah. Syafiyyah merupakan  saudara kandung Hamzah bin Abdul Muthalib yang bergelar ”Singa Allah”. Ia adalah ibu kandung sahabat agung, Zubair bin Awwam.

Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi dalam Nisaa’ Haular Rasul mengisahkan Shafiyyah tumbuh di rumah Abdul Muthalib, pemuka Quraisy dan orang yang memiliki kedudukan yang tinggi, terpandang, dan mulia. Al-Istanbuli dan Asy-Syalabi menyatakan “Faktor lingkungan inilah yang membuat Shafiyyah menjadi seorang wanita yang kuat, cerdas, pemberani dan ahli menunggang kuda,”.

Syafiyyah termasuk angkatan pertama yang beriman kepada ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhamma. Ia turut berhijrah bersama putranya ke Madinah, ibukota Islam yang pertama. Menurut Al-Istanbuli, Shafiyyah menyaksikan dan turut berperan dalam menyebarkan ajaran Islam.

Semangat jihad yang tumbuh dalam jiwanya mendorong sang mujahidah ini turut serta ke medan Perang Uhud. Ia berada dalam rombongan kaum wanita untuk mengobarkan semangat keberanian para mujahid. Shafiyyah pun turut mengobati mujahidin yang mengalami luka-luka dalam pertempuran.

Kemenangan yang telah digenggam kaum Muslimin di medan Perang Uhud berbalik menjadi kekalahan ketika pasukan pemanah mengabaikan perintah Rasulullah. Pasukan Muslim pun kocar-kacir ketika mendapat serangan balasan dari tentara musuh. Namun tidak dengan Shafiyyah. Ia tetap berdiri dengan berani berbekal tombak di tangannya. Ia geram melihat tentara Muslim kocar-kacir meninggalkan Rasulullah. Ia mengibas-ngibaskan tombak yang digenggamnya dan hendak memukulkannya ke wajah orang-orang yang mundur dari peperangan seraya berkata “Apakah kalian hendak meninggalkan Rasulullah?”.

Pada pertempuran Uhud, saudara kandungnya, Hamzah, gugur sebagai syuhada. Shafiyyah menerima kabar duka itu penuh kesabaran, ketabahan, dan ketegaran. Sungguh, ialah teladan bagi Muslimah lainnya dalam menghadapi musibah. Ia mengisahkan sendiri apa yang disaksikannya ”Pada hari terbunuhnya Hamzah, Zubair menemuiku dan berkata ‘Wahai ibunda, sesungguhnya Rasulullah menyuruh engkau agar kembali,”. Syafiyyah menjawab, “Mengapa? Sungguh telah sampai kepadaku tentang dicincangnya saudaraku, namun dia syahid karena Allah. Kami sangat ridha dengan apa yang telah terjadi, sungguh aku akan bersabar dan tabah insya Allah.”.

Zubair memberitahu Rasulullah tentang pernyataan Shafiyyah lalu Rasul bersabda, ”Berilah jalan baginya…!”. Shafiyyah mendapatkan Hamzah. Tatkala melihat jasad saudaranya, ia hanya berujar, “Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Shafiyyah memohon ampunan bagi Hamzah. Setelah itu, Rasulullah memerintahkan mengubur saudara kandungnya ini

Kepahlawanan Shafiyyah sebagai seorang mujahidah tampak pula pada Perang Khandaq. Ketika itu para Muslimah dan anak-anak berada dalam sebuah benteng.  Beberapa  pasukan Yahudi mencoba menyerang tempat kaum wanita. Di sana hanya ada Hassan bin Tsabit yang menjaga.

Mereka mengirim seorang mata-mata untuk menyelidiki keadaan dalam benteng. Shafiyah melihat kehadiran mata-mata itu. ia berkata kepada Hasan “Hai Hasan, ada seorang mata-mata Yahudi akan memasuki benteng kita, keluarlah dan bunuhlah dia, agar ia tidak mengetahui keadaan kita.”.

Hasan bin Tsabit tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaannya. Demi keselamatan kaum muslimah Shafiyah memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia mengambil patok kemah, dan mendekati mata-mata Yahudi itu lalu memukul kepalanya hingga tewas. Setelah itu ia menemui Hasan dan berkata “Hai Hasan, aku telah membunuhnya, karena ia bukan muhrimku, pergilah engkau mengambil hartanya, lepaskan pakaiannya dan penggallah lehernya!”.

Sekali lagi Hassan tidak bersedia karena keadaannya. Akhirnya Shafiyyah sendiri yang melakukannya. Ia memotong kepalanya dan menggelindingkannya ke luar benteng. Orang-orang Yahudi yang tengah bersiap menyerang benteng melihat itu dan berkesimpulan “Kita sudah menduga, Muhammad tidak akan meninggalkan wanita-wanita itu sendirian. Di sana pasti ada lelaki yang ditugaskan menjaganya.”.

Keberanian Shafiyyah inilah yang membuat benteng itu selamat dari serangan kaum Yahudi. Padahal ketika itu usia Shafiyyah telah mencapai 58 tahun.

Allah mengkaruniai Shafiyyah usia yang panjang.  lebih dari 70 tahun. Ia meninggal pada tahun 20 H pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Ia dimandikan di Baqi’, di halaman rumah Al Mughirah bin Syu’bah dan dimakamkan di pekuburan Baqi’.

Inilah sosok perempuan dalam Islam. Mereka tidak terkungkung dengan ke-Islamannya. Mereka menjadi sosok mulia dengan syari’at Islam yang ia genggam. Bahkan Islamlah yang melejitkan potensi mereka hingga tak ada penghalang antara sifat kewanitaaanya dengan jihad dan berperang di jalan Allah.

Sosok Shafiyyah binti Abdul Mutholib ini salah satu muslimah teladan sepanjang zaman. Semoga Allah memberikan kedudukan terbaik di Surga-Nya.

 

Baca Juga

Juara 1 di Kabupaten, Santriwati ini Melaju ke Hifdzil Quran Tingkat Propinsi

Juara 1 di Kabupaten, Santriwati ini Melaju ke Hifdzil Quran Tingkat Propinsi

MitraFM.com – Juara 1 di Kabupaten, Santriwati ini Melaju ke Hifdzil Quran Tingkat Propinsi. Torehan prestasi menjadi ...