RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Catatan Siar » Hindun binti Amru bin Haram, Diantara Para Syuhada

Hindun binti Amru bin Haram, Diantara Para Syuhada

MitraFM.com– Hindun binti Amru bin Haram menikah dengan Amru bin Jamuh yang saat itu pemimpin Bani Salamah di Yastrib yang kini kita kenal Madinah Al Munawaroh. Walaupun kaki Amru cacat (pincang), namun dia termasuk pimpinan yang disegani.

Mereka dikaruniai tiga putra, yaitu Mu’awadz, Mu’adz, dan Khalad. Sebagai pemimpin di masa jahiliyah, kediaman Hindun dipenuhi dengan berhala tempat pemujaan.  Patung-patung itu diberi nama Manat terbuat dari kayu yang harganya mahal.

Namun, satu persatu anak-anak Hindun masuk Islam tanpa diketahui ayahnya.  Mush’ab bin Umair sahabat Rasul seorang Duta Islam di Madinah yang mengislamkan mereka. Diikuti Hindun yang masuk Islam secara diam-diam.

Amru bin Jamuh bisa murka jika mengetahui istri dan ketiga putranya telah mengikuti agama Muhammad. Hindun resah dan takut jika suaminya yang berusia 60 tahun meninggal dalam keadaan kafir.

Lama-lama Amru bin Jamuh curiga ada anaknya yang mulai tertarik dengan Islam. Dia meminta istrinya menjaga anak-anaknya agar tidak terpengaruh Mus’ab bin Umair. Ketiga putranya harus memegang teguh kepercayaan nenek moyang. Hindun tak mau menyinggung suaminya. Dengan lembut dan kasih sayang dia berujar “Apakah kau pernah mendengar anak kita mengenal pemuda itu Mush’ab bin Umair?”. Amru balik bertanya “Apakah Mu’adz telah masuk agama orang itu?”.

Hindun berusaha menenteramkan hati suaminya. “Bukan begitu. Tetapi Mu’adz pernah hadir dalam majelis pemuda itu. Dia ingat kata-katanya,”. Suaminya sempat kaget. Dia minta putranya datang, lalu menyampaikan kata-kata apa yang telah didengarnya dari Mush’ab bin Umair.

Mu’adz menemui ayahnya. Ia membacakan surat Al-Fatihah di hadapan ayahnya. Lantunan ayat-ayat Allah yang dibacakan anaknya telah menggetarkan hati Amru.

Dia pun tertarik mengikuti agama Rasulullah, dan meninggalkan semua berhala yang ada di rumahnya. Hindun sangat bersyukur, kini semua anggota keluarganya beriman pada Allah dan Rasulullah.

Setelah keluarganya masuk Islam, Hindun yang dikenal sangat mencintai agama Allah memotivasi suami, ketiga anaknya, dan saudaranya Abdullah bin Amr bin Haram untuk berperang membela agama Allah. Amru pun bersemangat pergi berjihad, walaupun kondisi kakinya cacat, dan tidak diwajibkan angkat senjata. Ketika perang Badar Amru meminta agar Rasulullah memenuhi keinginannya ikut berperang namun Rasulullah tidak mengizinkan.

Ketika Perang Uhud, semangat jihad Amru berkobar walaupun ketiga putranya melarang. Ia menemui Rasulullah, “Wahai Rasulullah, putra-putraku melarangku berbuat kebajikan. Mereka keberatan jika aku ikut berperang, karena sudah renta dan pincang. Demi Allah, dengan pincangku ini aku bertekad meraih surga.”. Rasulullah akhirnya mengizinkan Amru bin Jamuh ikut Perang Uhud.

Siapa pun akan mengalami kesedihan ketika ditinggal mati orang-orang yang dicintai. Manusiawi memang. Inilah yang dialami shahabiyyah, Hindun binti Amru bin Haram yang kehilangan tiga orang yang disayanginya dalam waktu bersamaan.

Suami, anak, dan saudaranya mati syahid dalam peperangan. Hindun sangat sedih, namun tetap sabar, dan tidak membuatnya menjadi lemah. Ia yakin, semua itu takdir Allah dan bersyukur ketiga orang terdekatnya mati dalam keadaan syahid.

Mereka syahid ketika ikut Perang Uhud. Dalam keadaan sedih, Hindun membawa ketiga jenazah orang yang dicintainya ke atas unta. Ketika itu Aisyah melihat Hindun, dan bertanya “Ya Hindun, semoga engkau memperoleh kebaikan. Apakah yang ada di belakangmu?”. Hindun menjawab, “Rasulullah adalah orang yang saleh, dan setiap musibah selain kehilangan beliau adalah kecil. Dan Allah telah mengangkat beberapa orang mukmin sebagai syuhada.”.

Aisyah bertanya lagi, “Ya Hindun, akan engkau bawa kemana mereka itu?”. Ia menjawab “Aku hendak menguburkannya di Madinah.”.

Hindun memacu untanya agar berlari lebih cepat menuju arah Madinah anehnya unta tersebut tampak loyo, tidak mampu berlari lebih kencang. Hindun mengubah tujuannya ia menggiring untanya berbalik arah menuju medan perang di Bukit Uhud. Tidak disangka, unta yang tadinya lemah kini bisa berlari cepat hingga sampai Uhud.

Hindun membawa jenazah suami, anak, dan saudaranya bertemu Rasulullah. Rasulullah mendekatinya. Nabi bersabda, “Sungguh aku melihat suamimu -Amru bin Jamuh- berjalan di surga dalam keadaan sehat.”. Rasul menyuruh para sahabat menguburkan mereka dalam satu liang kubur. Rasulullah berkata, “Ya Hindun, mereka akan bersahabat di dalam surga Amru bin Jamuh suamimu, Khallad putramu, dan Abdullah saudaramu, semuanya akan menjadi penghuni surga.”.

Keterangan Rasulullah membuat Hindun lega dan bahagia. Ia berkata, “Ya Rasulullah, do’akanlah pada Allah agar aku termasuk golongan mereka juga.”. Rasulullah menjawab, “Wahai Hindun, engkau memiliki kesabaran yang tinggi, keimanan yang luhur, dan kepercayaan yang kuat pada apa yang berada di sisi Allah, engkau tidak pernah berkeluh kesah dalam menempuh kehidupan ini. Sebaliknya engkau sangat mencintai apa yang berada di sisi Allah.”. Jawaban Rasulullah membuat Hindun tenang, dan semakin kokoh keimanannya pada Allah dan Rasul-Nya.

Dia tegar, dan iklas, walaupun harus kehilangan suami, anak, dan saudaranya.  Rasulullah pun menjamin, kelak Hindun bersama keluarganya akan berkumpul di surga.

Alangkah indah kehidupan para sahabat Rasul. Mereka tak segan menyerahkan segalanya untuk Islam. Bahkan nyawa pun mereka serahkan untuk meninggikan agama Alllah ini. Semoga Allah berkenan melangkahkan kaki-kaki kita meneruskan perjuangan mereka.

Baca Juga

Biografi Singkat Mufassir

MitraFM.com– Sejatinya, ulama penulis tafsir al Qur’an begitu banyak. Setiap jaman selalu muncul ulama besar ...