EROPA KEPINCUT SAMA TEMPE

Sebagian makanan ataupun minuman kegemaran masyarakat di negara-negara maju berasal dari negeri seberang. Sebut saja kopi dan cappuccino, yang juga sangat terkenal dan digemari di berbagai belahan dunia.

Kopi, minuman kaum Sufi

Selain sebagai minuman yang disukai, ternyata kopi punya nilai kesehatan. Dalam karya besarnya Qonun Al Tibb, Ibnu Sina (Avicenna, 981 – 1037 M) memaparkan khasiat kopi dalam membugarkan tubuh, membersihkan kulit, dan mengeringkan kelembaban di bawah kulit, serta memberi bau wangi pada seluruh tubuh. Sebelumnya, dokter Muslim abad ke-9 Ar Razy (Rhazes, 865 – 925 M) juga memaparkan sejumlah manfaat kesehatan dari kopi.

Ada beberapa riwayat tentang asal usul kopi. Yang terkenal adalah penemuan kopi oleh penggembala Arab bernama Khalid (750 M) yang hidup di Ethiopia. Ia mengamati perubahan perilaku kambing-kambingnya yang memakan tanaman kopi.

Kopi sebagai minuman pertama digunakan dan dibudidayakan di Yaman. Ada kesepakatan pula bahwa kalangan sufi-lah pengguna pertama minuman kopi. Kopi mereka manfaatkan untuk merangsang tubuh agar tetap terjaga ketika berdzikir (mengingat Allah) di larut malam.

Minum kopi sambil makan tempe

Meski yang satu minuman dan yang satu makanan, keduanya memiliki kemiripan. Kalau kopi sudah mendunia, tempe mulai merambah manca negara.

Sebagaimana kopi, kini tempe telah menjadi bahan penelitian ilmuwan di berbagai negara maju. Khasiat kesehatan tempe telah banyak diakui ilmuwan, sebagaimana manfaat kopi.

Tidak menutup kemungkinan, tempe bakal merambah seantero dunia dan mengikuti kisah sukses pendahulunya, kopi. Siapa tahu, di masa mendatang bakal ada budaya global baru: minum kopi sambil menikmati tempe.

Apa itu tempe?

Tempe adalah makanan asli Indonesia yang terbuat dari kacang kedelai yang telah dimasak dan selanjutnya mengalami proses fermentasi dengan jamur. Fermentasi di sini adalah penumbuhan ragi jamur tempe yang dinamakan Rhizopus. Ragi ini berisi spora, yaitu alat perkembangbiakan sang jamur. Ketika jamur tumbuh, maka tubuh jamur tersebut yang berupa benang-benang putih mengikat butir-butir kedelai.

Tempe riwayatmu kini

Selama ratusan tahun tempe telah menjadi makanan kesukaan dan salah satu sumber utama protein bagi warga Indonesia. Namun kini, tempe sudah merambah manca negara, tidak saja karena rasa dan aromanya, namun juga karena kandungan gizinya. Tidak hanya itu, kini sejumlah lembaga penelitian di berbagai negara maju di Amerika dan Eropa, menjadikan proses pembuatan tempe maupun jamur tempe itu sendiri sebagai bahan penelitian ilmiah. Ini tidak lain dan tidak bukan karena keunggulan tempe maupun jamur tempe, yakni Rhizopus.

Tempe makanan sehat

Telah diakui para ilmuwan bahwa tempe benar-benar sangatlah bergizi. Tempe juga mengandung bahan-bahan kimia yang sangat baik bagi kesehatan dan juga berkhasiat membantu tubuh dari serangan penyakit seperti kanker. Selain kaya protein dan asam amino penting, tempe juga mengandung zat yang disebut isoflavon. Isoflavon berkhasiat memperkuat tulang, membantu meringankan gejala menopause, mengurangi resiko penyakit jantung dan juga kanker.

Perjalanan Menuju Eropa

Belanda merupakan negara di mana tempe sangatlah terkenal. Pada tahun 1895 pakar mikrobiologi Belanda, yang juga ahli kimia, Prinsen Geerlings melakukan upaya pertama dalam pengenalan terhadap jamur tempe. Di Belanda-lah pabrik-pabrik tempe pertama muncul di bumi Eropa, dan dirintis oleh para pendatang asal Indonesia.

Kini tempe menjadi salah satu bahan makanan yang mulai digemari di Amerika, Eropa dan negara-negara maju lain. Ketertarikan terhadap tempe yang semakin meningkat ini dipicu di antaranya oleh kandungan gizi tempe yang sangat berkhasiat bagi kesehatan, kecenderungan hidup sehat di kalangan masyarakat di negara maju serta gaya hidup vegetarian.

Binatang pun ikut sehat

Ternyata bukan hanya manusia saja yang akan sehat karena makan tempe, hewan pun demikian. Setidaknya inilah yang diungkap baru-baru ini (tahun 2007) melalui penelitian ilmuwan di Belanda. Para peneliti di universitas Wageningen menyimpulkan bahwa zat-zat yang terkandung di dalam tempe mampu melindungi hewan ternak dari kehilangan cairan berlebihan selama diare. (tim ISTECS on Air - 2007)

Nara sumber:

Catur Sriherwanto

 Kandidat Doktor bidang Bioteknologi di Universitas Hamburg Jerman
S2, New South Wales University , Australia &   ITB
S1, Sheffield University , Inggris

Rujukan:

1. What is tempe?

2. British Journal of Nutrition. 98(2):320-325, August 2007.

3. The Coffee Trail: Origins of the Muslim beverage.

5 Comment(s)

  1. Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb

    Sebelumnya, ana mau ucapin selamat dan saluuut buat para administrator Mitra FM, semoga semakin maju dan menang…!!!

    Selanjutnya, salam kenal dari ana, santri Hidayatullah asal kota Bontang Kalimantan Timur. Postingan yang ada disini juga bagus bagus, syukron ya.

    Wassalamu ‘Alaikum Wr. wb

    Ainuddin A. Chalick | Dec 8, 2007 | Reply

  2. Allahu Akbar… sepertinya Hidayatullah sudah mulai marak nih di dunia lain…(hehehehe…)

    Semoga kita semua menjadi pemenang dunia akhirat….!!!!

    Anaksantan | Dec 8, 2007 | Reply

  3. Kami gembira karya teman-teman muslim di radio Mitra. Insya Allah sangat bermanfaat dan menyemangati. Khusus siaran radio Mitra, perlu sentuhan tambahan pada penataan lagui.

    Miratun Jakarta | Dec 10, 2007 | Reply

  4. tetaaaaaaaaap semangatttttt.Wah ane jg seneng tempe, pa lgi klo dibuat mendoan (jawa) ato klo di Srbya tempe sholehah, pa lgi makny pas anget2 gitu, JAN ENAKE POOOOOOOOOOOOL.buat kru mitra lam JIHAD

    boement_wonk | Dec 10, 2007 | Reply

  5. pantesan sekarang kedelai jadi mahal ya..semua pada berebut tempe tahu

    Mendoan mania dari Holland

    Pengembara

    sang pengembara | Jan 19, 2008 | Reply

Post a Comment