Sudahkah Anda Kenal Si Jühnde?
By admin on Dec 15, 2007 in INDONESIA BELAJAR- Kerjasama Mitra 97FM - ISTECS
Istilah energi terbarukan sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi kita. Tanpa kita sadari, dalam keseharian kita sudah memanfaatkan energi ini untuk keperluan yang sederhana.
Dari Kayu Hingga Angin
Penggunaan kayu bakar untuk memasak sebenarnya adalah pemanfaatan energi terbarukan jenis biomassa. Menjemur pakaian di pekarangan rumah adalah bentuk pemanfaatan energi matahari.
Nelayan yang menggunakan perahu layar tanpa motor sebenarnya memanfaatkan energi angin. Bahkan sejak zaman Khalifah Umar, sudah ada kincir angin untuk penggilingan dan pengairan.
Tantangan Saat Ini
Energi terbarukan adalah energi yang secara sunnatullah tersedia terus-menerus di alam. Minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak tersedia terus-menerus di alam. Ini karena bahan pembentuk minyak bumi menurut sejumlah pendapat ilmuwan adalah fosil yang baru dapat terbentuk setelah jutaan tahun terpendam dalam tanah.
Bila kita menghubungkan energi dan hidup kita sehari-hari, maka penggunaan energi sebagian besar adalah pada listrik, kendaraan, dan memasak. Tantangan saat ini adalah bagaimana memanfaatkan energi terbarukan pada tiga bidang tersebut.
Energi angin sebenarnya adalah energi gerak. Dengan bantuan pembangkit (generator), energi gerak dapat diubah menjadi energi listrik.
Sinar yang dipancarkan matahari sebenarnya adalah gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dapat diubah menjadi energi listrik atau menjadi energi panas. Setiap hasil fotosintesis tumbuhan juga menyimpan potensi untuk diubah menjadi energi panas.
Air yang berada pada ketinggian tertentu memiliki potensi untuk menghasilkan energi gerak bila air tersebut dialirkan. Energi gerak ini kemudian bisa diubah menjadi energi listrik.
Sungguh Allah Maha Pemurah, menyediakan sumber energi ini melimpah di alam. Tinggal bagaimana kita sebagai hamba-Nya mensyukuri nikmat ini yang kadang kita lupakan.
Desa Bioenergi: Jühnde
Seratus persen energi dari sumber terbarukan bukan lagi isapan jempol. Setidaknya ini telah dibuktikan Jühnde, sebuah desa di Jerman utara. Dijuluki “Desa Bioenergi”, Jühnde mengalihkan keseluruhan pasokan energinya kepada sumber terbarukan, yakni biomassa yang berupa tanaman dan kotoran ternak. Tak heran jika desa ini mendapatkan penghargaan European Solar Prizes 2005 dari Eurosolar, Perhimpunan Eropa untuk Energi Terbarukan.
Kebutuhan listrik dan panas desa yang berpenduduk sekitar 750 jiwa ini didapatkan dari pusat pembangkit bioenergi. Pembangkit ini terdiri dari instalasi biogas berdaya 700 kW dan pembangkit panas berdaya 550 kW yang berbahan bakar serpihan kayu.
Dengan pipa pemanas berjarak pendek (panjang keseluruhan pipa 5.500 m), panas yang dihasilkan dialirkan ke rumah-rumah. Pusat pembangkit energi ini sama sekali memanfaatkan sumber daya alam dari desa itu sendiri, sehingga benar-benar mandiri, alias tidak bergantung dari luar.
Kotoran cair dari 800 ekor sapi dan 1.400 ekor babi, rumput serta tanaman lain digunakan untuk menghasilkan biogas. Inilah yang kemudian mampu membangkitkan 4.000.000 kWh listrik per tahun.
Di musim panas, panas yang dihasilkan cukup untuk pemanasan dan penyediaan air panas. Kebutuhan panas tambahan di musim dingin didapatkan dari pembangkit panas berbahan bakar serpihan kayu.
Proyek percontohan dukungan Universitas Göttingen dan Universitas Kassel ini sekarang terkenal tidak hanya di seantero Jerman, namun juga di seluruh dunia. Desa bioenergi Jühnde menarik banyak pengunjung, pasalnya 100% pasokan energi dari sumber terbarukan bukan lagi mimpi kosong.
Energi terbarukan adalah pilihan yang benar-benar dapat diwujudkan, yang ramah lingkungan, hemat, mandiri dan tidak tergantung pasokan luar. Pendek kata lebih menguntungkan dibandingkan sumber energi konvensional.
(Ibnu Kahfi Bachtiar & tim ISTECS on Air - 2007)
Sumber :
Nara sumber: Ibnu Kahfi Bachtiar
- S2 di Postgraduate Programme Renewable Energy, University of Oldenburg, Germany.
- S1 Teknik Elektro ITB
Nara sumber: Ibnu Kahfi Bachtiar



Post a Comment