IKLIM BERUBAH, PETANI PUN GUNDAH
By admin on Dec 21, 2007 in INDONESIA BELAJAR- Kerjasama Mitra 97FM - ISTECS
Bumi semakin panas
Saat ini, berbagai lembaga penelitian dan pengembangan pertanian di dunia kalang kabut. Ada apa? Penyebabnya adalah perubahan iklim dunia.
Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) bulan Februari 2006 menyatakan bahwa suhu permukaan bumi telah meningkat 0,74 derajat selsius pada 100 tahun terakhir. Suhu ini diperkirakan akan naik sebesar 3 derajat selsius pada abad berikutnya.
|
|
Fenomena perubahan suhu ini amat mencolok jika dibandingkan dengan rentang waktu ribuan tahun yang lalu hingga awal tahun 1900-an. Sekitar 90-95% dari peningkatan suhu ini diakibatkan oleh manusia, khususnya menumpuknya gas-gas “rumah kaca” seperti karbondioksida, metana dan nitrogen oksida.
Lampu merah untuk pertanian
Hal yang membahayakan dari perubahan iklim global ini terhadap sektor pertanian adalah apa yang disebut dengan „extreme weather events“ (peristiwa-peristiwa
cuaca yang sangat menyimpang). Dengan kata lain perubahan cuaca yang tidak seperti biasanya. Ini meliputi perubahan pola curah hujan, suhu yang meningkat, kekeringan, badai, banjir, memendeknya masa tumbuh tanaman, dan menurunnya produktifitas pertanian.
|
|
Bahayanya lagi, kejadian ini akan lebih diderita oleh negara-negara tropis, termasuk Indonesia. Hal ini akan semakin menjadikan nasib petani memprihatinkan, apalagi banyak dari mereka adalah golongan kurang mampu.
Negara-negara Sub-sahara Afrika yang merupakan penduduk paling miskin, paling tergantung pada pertanian. Kondisi lahan di wilayah itu sangat parah, serta 95% wilayahnya tergantung pada curah hujan. Sehingga merekalah yang diperkirakan bakal paling menderita dengan perubahan iklim global ini.
Jalan keluar
Bagaimana mengatasi hal ini? Kondisi inilah yang kemudian menjadi pusat perhatian CGIAR (Consultative Group on International Agricultural Research), lembaga yang bergerak di bidang penelitian pertanian dunia, serta memiliki 15 pusat penelitian. Beberapa hal penting terkait dengan masalah ini telah dikembangkan lembaga ini. Di antaranya:
1). perlindungan sumber daya air dan sumber daya alam lainnya pada kondisi iklim ekstrim,
2). pengembangkan jenis tanaman yang teradaptasi dengan kondisi cuaca ekstrim,
3). pengembangkan kebijakan dan inovasi kelembagaan, pengelolaan tanaman, ternak, tanah, air, hutan, ikan dan keanekaragaman hayati yang lebih berkelanjutan.
(Anuraga Jayanegara & tim ISTECS on Air - 2007)
Rujukan:
1. Research & Impact: CGIAR on Global Issues: CGIAR & Climate Change. http://www.cgiar.org/impact/global/climate.html
2. Intergovernmental Panel on Climate Change, Presentation and Graphic. http://www.ipcc.ch/present/graphics.htm
3. The Muslim Agricultural Revolution. http://muslimheritage.com/features/default.cfm?ArticleID=515
4. The Scholars of Malaga. http://www.muslimheritage.com/topics/default.cfm?articleID=525
|
|
Nara sumber:Anuraga Jayanegara
Kandidat Master bidang Pertanian di Universitas Hohenheim, Jerman |






Post a Comment