Bengawan Solo Surut, Bojonegoro Malah Tenggelam

Permukaan air Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro mulai turun sejak Minggu dini hari. Namun, genangan air di wilayah Kota Bojonegoro Senin (31/12) malah terus meninggi. Akibatnya, Kota Bojonegoro semakin terisolasi.

Berdasar data di Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, pukul 18.00 tadi malam, ketinggian air Sungai Bengawan Solo pada papan duga di Kecamatan Kota Bojonegoro menunjuk angka 16.15 peilschaal (satuan catatan duga permukaan air).

Ketinggian air di papan duga Karangnongko, Ngraho, juga menunjukkan penurunan cukup drastis. Yakni, dari 31.24 pada pukul 01.00 ke 30.05 pada pukul 18.00 kemarin. “Namun, ketinggian air bisa naik lagi. Sebab, di Solo dan Sragen (daerah hulu Sungai Bengawan Solo, Red) masih terjadi hujan,” jelas Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Pudjo Guntoro.

Sebagaimana diberitakan, banjir di Bojonegoro dipicu oleh jebolnya tanggul yang selama ini melindungi wilayah perkotaan dari banjir pada Sabtu (29/12). Tanggul itu sengaja dijebol oleh beberapa warga dengan alasan agar genangan air di wilayah sekitarnya bisa surut. Namun, tindakan ceroboh tersebut justru menyebabkan seluruh wilayah perkotaan tergenang air.

Surutnya permukaan air Bengawan Solo, yang menjadi sumber malapetaka banjir di Ngawi, Tuban, dan Bojonegoro, tersebut tidak menyurutkan genangan banjir di permukiman warga. Radar Bojonegoro (Grup Jawa Pos) melaporkan, sejak Minggu (30/12) pagi, seluruh akses menuju Kabupaten Bojonegoro terputus. Ketinggian air di beberapa tempat terus meningkat dari semula hanya selutut terus naik hingga seleher orang dewasa.

Selain jalan raya, Terminal Rajekwesi terendam, sehingga seluruh kendaraan tidak bisa memasuki wilayah Bojonegoro. Kendaraan dari arah Surabaya yang melewati Babat pun tidak bisa masuk terminal dan harus berhenti di Kali Anyar.

Jalur Bojonegoro-Nganjuk juga nyaris putus. Jalan alternatif sepanjang 4 kilometer yang melewati Jl H.O.S. Cokraminoto-Pacul dan Jl W. Monginsidi di Sukorepo terendam air setinggi dada orang dewasa. Demikian pula jalur Bojonegoro-Nganjuk yang melewati Ngumpak Dalem-Tanjung Harjo-Wedi-Kali Anyar. Jalur itu pun nyaris putus karena air sudah menggenangi jalan raya.

Kini tinggal beberapa instansi vital di Kota Bojonegoro yang tidak terkena banjir. Di antaranya gedung olahraga (GOR) dan lembaga pemasyarakatan. Sementara Kantor Pemkab, Kantor DPRD, dan RSUD Bojonegoro yang semula bebas dari banjir kemarin menyusul terendam air.

Bupati Bojonegoro M. Santoso tak dapat bekerja maksimal dengan kondisi kota yang terendam. Saat mendapat permintaan dari Badan SAR Nasional (Basarnas) untuk mengamankan sekitar lokasi pendaratan helikopter, dia kesulitan meminta bantuan dari polres. Petugas tak bisa bergerak cepat karena kawasan alun-alun kota yang dijadikan tempat mendarat tergenang air. Sementara alat transportasi perahu juga terbatas. (JP)

Post a Comment