Perangkat Elektronika Mobil yang Kian Cerdas, Efisien dan Aman

Sejak jaman dahulu manusia senang sekali bepergian jauh ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya. Berbagai jenis kendaraan digunakan, mulai dari jenis hewan darat hingga pesawat terbang. Kemajuan teknologi memungkinkan manusia bepergian dengan semakin cerdas, efisien, dan aman.

Kendaraan darat seperti mobil sedan pada umumnya memiliki

Night Vision: Meskipun tanpa lampu, pengendara yang ada di depan mobil ini bisa terlihat di layar dashboad dengan bantuan sinar infra merah. Perangkat elektronika di mobil kian cerdas, efesien dan aman.mobil.jpg

beberapa bagian atau subsistem utama. Subsistem penggerak, subsistem keamanan, subsistem kenyamanan, serta subsistem informasi dan hiburan. Keempatnya secara khusus berturutan dinamakan power-train, safety, body-comfort, serta infotainment. Contohnya, mesin dan transmisi (roda-gigi) termasuk ke dalam subsistem penggerak. Rem, kantong udara (air bag) dan sabuk pengaman termasuk ke dalam subsistem keamanan. Penggerak jendela dan lampu termasuk ke dalam subsistem kenyamanan. Radio dan GPS termasuk ke dalam infotainment.

Meski secara prinsip sejak tahun 70-an hingga sekarang fungsi-fungsi subsistem tersebut tidak banyak mengalami perubahan, namun terdapat perbedaan besar dalam inovasi produknya. Khususnya ketika terdapat peluang bahwa dengan menggunakan elektronik, banyak parameter yang dapat diperbaiki.

Injeksi bahan bakar elektronik (EFI) membuat konsumsi bahan bakar menjadi semakin efisien karena dapat menginjeksikan bahan bakar yang diperlukan mesin pada waktu yang tepat dengan jumlah yang tepat pula.

Benturan keras pada bagian luar kendaraan dapat dideteksi sehingga dengan cepat (sekitar 0.2 detik) sabuk pengaman mengencang secara otomatis dan kantong udara mengembang ke luar untuk mengamankan badan pengendara dari benturan keras.

Pada malam hari kamera infra merah dapat membantu penglihatan terutama dari obyek-obyek hidup yang memancarkan panas sehingga yang tadinya tidak tersinari lampu dapat juga dilihat dengan baik.

Dalam kondisi jalanan yang basah, pengereman konvensional dapat membuat roda terkunci, selip dan akhirnya kendaraan mudah tergelincir. Sistem elektronik pada rem anti-mengunci (anti-lock braking system, ABS), dapat mengatur tekanan kanvas rem secara tepat sehingga roda sama sekali tidak terkunci.

Sistem navigasi dengan satelit mampu menyediakan informasi rute kendaraan tercepat dan bebas kemacetan

Bahkan seandainya kendaraan mogok, mekanik bengkel dapat membantu menyelesaikan beberapa masalah dengan lebih cepat karena kerusakan dapat diperoleh melalui informasi yang dipancarkan kendaraan melalui jaringan komunikasi. Kemudian mekanik tinggal datang dengan membawa suku cadang yang tepat ke lokasi kendaraan tanpa mencari-cari lagi sumber masalahnya.

Dapat disimpulkan bahwa dari sedemikian banyaknya inovasi baru pada dunia kendaraan adalah berkat perkembangan elektronika. Terutama tersedianya sensor-sensor yang semakin akurat, perhitungan mikrokontroler, serta komunikasi data antar rangkaian yang semakin cepat. Dan sebagaimana trend yang terjadi di dunia elektronika lainnya, semakin banyak fungsi tidak membuat ukurannya semakin besar, sebaliknya masih tetap dapat kecil dan semakin ringan.

Sumber: Pengalaman pribadi penulis dan beberapa sumber lain.

Dian Tresna Nugraha

S1 di ITB jurusan teknik elektronika kemudian S2 di Karlsruhe, Jerman, jurusan teknik informasi dan komunikasi.

Sedang bekerja di Jerman sebagai insinyur elektronika di perusahaan komponen semikonduktor untuk kendaraan.

Pernah bekerja sebagai Embeded Engineer di Infineon, yang sehari2 berkutat dengan design dan R&D untuk Ferarri Formula 1.

3 Comment(s)

  1. Assalamu alaikum Kang. Saya penggemar formula 1 terutama dari tim Ferrari. Ternyata orang-orang yang ada di balik kisah sukses Ferrari ada juga mojang Bandung. Nuhun pisan Kang. Terima kasih juga buat radio Mitra yang menyelenggarakan acara ini, INDONESIA BELAJAR. Met ketemu di jam siaran Sabtu (19/1) nanti malam. Saya akan dengarkan melalui streaming dari Suroboyo.

    Banin Surabaya | Jan 19, 2008 | Reply

  2. Terima kasih kepada tim MitraFM yang telah mempublikasikan acara dan artikel ini.

    Sedikit koreksi dari informasi yang disampaikan di atas, tertulis:
    “Sedang bekerja di Jerman sebagai insinyur elektronika di perusahaan komponen semikonduktor untuk kendaraan.

    Pernah bekerja sebagai Embeded Engineer di Infineon, yang sehari2 berkutat dengan design dan R&D untuk Ferarri Formula 1.”

    Seharusnya:

    “Sedang bekerja di Jerman sebagai insinyur elektronika di Infineon, perusahaan komponen semikonduktor untuk kendaraan (dan juga telekomunikasi, security, dan industri). Pernah berkutat dengan desain dan R&D modul elektronika di Ferrari F1″.

    Untuk mas Banin, dalam bahasa Sunda ‘mojang’ itu adalah ‘gadis’. Sedangkan ‘perjaka’ disebutnya ‘jajaka’. Sekarang saya bukan lagi jajaka, apalagi mojang. Tapi dengan menyebut ‘kang’, maksudnya sudah benar. Jadi mungkin hanya salah kata saja, ya.. ;-)

    Mohon maaf karena kemarin katanya di Surabaya suara saya terdengar putus-putus karena saluran internetnya yang kurang baik. Saya tidak tahu apakah masalahnya di Jerman atau di Indonesia.

    Salam kenal untuk semuanya. Kalau ada yang didiskusikan lebih lanjut, bisa dikirim pertanyaan di sini atau lewat email.

    Wassalaam,
    Dian.

    Dian Nugraha | Jan 21, 2008 | Reply

  3. Terima kasih kepada tim MitraFM yang telah mempublikasikan acara dan artikel ini.

    Sedikit koreksi dari informasi yang disampaikan di atas, tertulis:
    “Sedang bekerja di Jerman sebagai insinyur elektronika di perusahaan komponen semikonduktor untuk kendaraan.

    Pernah bekerja sebagai Embeded Engineer di Infineon, yang sehari2 berkutat dengan design dan R&D untuk Ferarri Formula 1.”

    Seharusnya:

    “Sedang bekerja di Jerman sebagai insinyur elektronika di Infineon, perusahaan komponen semikonduktor untuk kendaraan (dan juga telekomunikasi, security, dan industri). Pernah berkutat dengan desain dan R&D modul elektronika untuk Ferrari F1″.

    Untuk mas Banin, dalam bahasa Sunda ‘mojang’ itu adalah ‘gadis’. Sedangkan ‘perjaka’ disebutnya ‘jajaka’. Sekarang saya bukan lagi jajaka, apalagi mojang. Tapi dengan menyebut ‘kang’, maksudnya sudah benar. Jadi mungkin hanya salah kata saja, ya.. ;-)

    Mohon maaf karena kemarin katanya di Surabaya suara saya terdengar putus-putus karena saluran internetnya yang kurang baik. Saya tidak tahu apakah masalahnya di Jerman atau di Indonesia.

    Salam kenal untuk semuanya. Kalau ada yang didiskusikan lebih lanjut, bisa dikirim pertanyaan di sini atau lewat email.

    Wassalaam,
    Dian.

    Dian Nugraha | Jan 21, 2008 | Reply

Post a Comment