Eks TKI di Malaysia Dipasung Selama 16 Tahun
By admin on Jan 24, 2008 in MITRA UP DATE- Berita Terkini Mitra 97FM
Hampir tak terlihat kegembiraan yang berarti di muka Suwarto (42) saat tangan petugas petugas mapolsek Rejotangan Kab Tulungagung turut membantu melepas rantai yang melilit perutnya.
Warga Dusun Dungmanten RT 01 RW 03 Desa Aryo Jeding Kec Rejotangan itu hanya tersenyum kecil. Padahal enam belas tahun lamanya, rangkaian besi yang nampak berkarat itu memasung kebebasanya.
Tepatnya semenjak amarahnya lepas tak terkendali dan keluarganya memutuskan dirinya sebagai orang gila yang tak pantas bermasyarakat. Dan sejak itu Suwarto hanya memiliki kemerdekaan sejauh 1, 5 meter, sepanjang rantai besi yang melilitnya.
“Perasaan ini rasanya biasa saja mas. Wong saya sudah dikehendaki keluarga seperti ini. Menurut saya sama saja antara dipasung dan dilepaskan, “tuturnya kepada wartawan pelan.
Mendengar setiap kalimat yang diucapkannya, hampir tak percaya pria ini mempunyai masalah dengan kejiwaanya. Terhadap setiap orang yang menjadi lawan bicaranya, Suwarto selalu bertutur kata sopan, menggunakan bahasa jawa halus.
Hanya saja bila terlalu lama diajak bicara, terkadang terdengar ngelantur tak jelas arah pembicaraanya. Namun ia buru-buru kembali ke topik awal begitu ditegur. Kesan sehat akal menjadi sirna begitu melihat “tempat tinggal” Suwarto. Sejengkal pelataran yang berada dibawah pohon bamboo dengan atap seadanya.
Sebelum dibebaskan, di bawah pohon tersebut Suwarto menghabiskan hari-harinya dengan bersimpuh. Ia bisa berdiri dan berjalan, namun hanya sejauh mata rantai yang mengikat perutnya. Kegiatan itu paling akan dilakukanya hanya saat buang air besar dan kecil.
Rantai berukuran cukup besar itu terpatri pada batang pohon Randu yang sudah mati. Akibat lilitan yang ketat itu perutnya tampak mengecil dan meninggalkan noda hitam melingkar.
Saat diamati, tidak ada alas duduk kecuali karung goni yang beberapa bagiannya sudah sobek. Begitu juga tak ada lampu penerangan. Lebih mudahnya, siang hari kepanasan dan malam hari kedinginan. Untuk makan setiap hari, ia dikirim keluarganya.
Lokasi ini berada di sebuah kebun jagung berjarak sekitar 50 meter dari tempat tinggal almarhum Katirin dan almarhumah Ny Munirah orang tua Suwarto. Suwarto merupakan putra bungsu dari dua bersaudara.
Sebelum meninggal dunia Katirin sempat menikahi Ny Kasiyah dan dikarunia dua putra. Semua keluarga ini yang menganggap Suwarto berbahaya dan harus dipasung. Ditemui di kantor mapolsek Rejotangan, pria yang pernah menikahi Ny Misini warga setempat yang lalu meninggalkanya itu masih ingat dirinya pertama kali dianggap tidak waras.
Yakni sekitar tahun 1990an setelah pulang dari menjadi TKI di Johor Malaysia. Di negeri Jiran Suwarto bekerja sebagai pemborong dan cukup sukses. Ia hidup selama 12 tahun disana. Tidak diketahui pasti apa yang menjadi penyebabnya. Ketika pulang mendadak perangai Suwarto menjadi pemarah. Semua yang ada dirumah diamuknya tak terkecuali orang tuanya. Bahkan informasinya Ny Sukarti kakak Kandungnya sempat hendak dicekiknya. Begitu juga dengan Sukarno adik tirinya.
“Setelah dari Malaysia saya dianggap sakit jiwa. Bapak mengobatkan dua kali ke Lawang Malang. Saya sempat ditempatkan disana selama 2,5 tahun. Setelah itu pulang-pulang langsung dirantai, “tuturnya pelan.
Suwarto tidak mempunyai keinginan apapun selain kembali ke keluarganya. Dirinya pasrah mau dibawa kemana, termasuk dititipkan dirumah sakit jiwa. Kapolsek Rejotangan AKP M Ilyas ditemui mengatakan pelepasan Suwarto atas dasar rasa kemanusiaan. Hal itu dilakukan setelah petugas mendapatkan laporan dari salah seorang warga. “Motivasi ini atas dorongan rasa manusiawi saja. Tidak manusiawi seseorang dipasung kemerdekaanya, “ujarnya.
Selanjutnya polisi akan memeriksakan Suwarto ke RSJ Porong Sidoarjo. Sebab dari informasi yang didadaptkan polisi, hasil analisa dokter di RSJ Lawang sebelumnya menyatakan Suwarto tidak mengalami gangguan jiwa. Ia hanya memiliki temperan yang kelewat kasar. “Karenanya akan kita periksakan lagi ke RSJ Porong Sidoarjo,”ujarnya.
Sementara itu Ny Kasiyah, 70 orang tua tiri Suwarto ketika ditemui di rumahnya mengatakan pemasungan anak tirinya itu karena memang dianggap berbahaya dan mengancam jiwa keluarga. Namun bila memang Suwarto sudah sembuh seperti sedia kala, keluarga akan menerima dengan tangan terbuka.
“Tentunya namanya anak, kalau memang sudah sembuh kita akan menerimanya kembali pulang nak, “tuturnya. (okezone)



Post a Comment