Dua Praja IPDN Keroyok Pedagang Nasi

Kekerasan kembali terjadi di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang. Kali ini menimpa seorang pedagang nasi bernama Budi (19) yang mengaku dipukuli dua orang Praja bernama Martin dan Lukas.

Asal mulanya, pada hari Jumat kemarin, tepatnya pukul 21.30 WIB, Budi tengah mengantarkan makanan yang dipesan oleh praja. Namun, kedua praja dari barak Kaltim itu menegur Budi agar tidak berdagang di wilayah Kampus IPDN.

Setelah terjadi cekcok, tak ayal Budi dipukuli oleh keduanya. Terang saja, Budi tak berdaya dibuatnya. “Ketika itu si Budi sedang membawa nasi pesanan dan ditegur agar tidak masuk ke barak. Lalu entah kenapa setelah itu Budi dipukuli oleh Martin dan Lukas,” ujar Dosen IPDN Inu Kencana kepada okezone melalui pesan singkatnya, Sabtu (8/3/2008).

Kejadian ini diperkuat dengan kesaksian Aiptu Hartanto yang kala itu sedang menjaga keamanan di sekitar Kampus IPDN. “Budi dipukuli hingga dadanya terasa sakit dan mulutnya keluar darah,” ujarnya kepada okezone.

Petugas dari Polda Jabar ini mengatakan, pihaknya sudah mempertemukan mereka untuk menyelesaikan masalah tersebut baik secara hukum maupun kekeluargaan.

Namun, melihat kondisi Budi yang parah hingga dadanya sakit dan mengeluarkan darah dari mulutnya, Hartanto tidak dapat menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan. “Namun saya berinisiatif agar Budi di rontgen. Karena saya tidak mau ada pihak yang dirugikan,” katanya.

Saat ini, dikatakan Hartanto, Budi sedang menjalani pemeriksaan di rumah sakit untuk diketahui apakah luka yang didapatnya serius atau tidak. “Saat ini, Budi sedang menjalani rontgen,” katanya.

Menanggapi kejadian tersebut, Plt Rektor IPDN Johanis Kaloh membenarkan terjadinya pemukulan yang dilakukan oleh praja IPDN. Namun, tidak tidak dapat menyimpulkan kejadian itu bagian dari pengeroyokan.

“Saya tidak dapat mengatakan apakah ini pengeroyokan atau bukan,” katanya. Dia menambahkan, pihaknya siap untuk menempuh berbagai jalur yang akan ditempuh menghadapi hal tersebut. “Saya ingin agar pemberitaan ini berimbang dan tidak sepihak,” tegas Johanis. (sjn)

Post a Comment