Global Media, Siapa Berani Menantang?

Narasumber: Asep Setiawan, Produser radio BBC London

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin akrab mendengarkan nama Harry Potter, anak ajaib dari Inggris. Buku Harry Potter maupun filmnya sudah menjadi bagian dari gaya hidup terutama masyarakat perkotaan. Harry Potter adalah simbol dari pengaruh media global terhadap budaya masyarakat.

Demikian juga lagu Kylie Minogue akrab di telinga generasi muda. Tidak hanya itu sebagian masyarakat akan datang apabila ada konser musiknya di Jakarta. Di dalam anak tangga lagu yang diputar di berbagai radio Indonesia, penyanyi asal Australia ini juga berkumandang sampai ke pelosok desa.More... Selain bentuk hiburan itu, banyak masyarakat juga dengan cepat menyaksikan apa yang terjadi di Irak. Perang Irak sejak 2003 menyedot perhatian media. Tayangan langsung mengenai kekejaman Irak bisa disaksikan langsung oleh masyarakat melalui televisi atau jalur internet.

Demikian juga peristiwa olahraga. Meski Liga Utama Inggris ditayangkan secara langsung pukul tiga dinihari, namun penggemar olahraga mau bangun untuk menyaksikan pertandingan sepakbola baik di Old Traford di Manchester atau di klub Arsenal di London. Jutaan rupiah dikeluarkan oleh media massa di Indonesia untuk memancarkan siaran langsung itu

Semua fenomena itu sudah menjadi bagian keseharian masyarakat tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pelosok dunia. Dunia kata McLuhan bagaikan menjadi ”Global Village”. Satu gosip dan persitiwa di penjuru dunia dalam hitungan detik dan menit bisa beredar di muka bumi.

Dalam pertemuan ini kita akan memperbincangkan pertama, apa itu global media. Kedua, siapa saja pemain global media. Ketiga, apa pengaruhnya dan keempat, bagaimana kita menempatkan posisi dalam menghadapi tantangan maraknya media global ini.

”Global Media”

Istilah global media atau media massa yang bersifat global merujuk kepada teknologi, penyedia informasi dan penyaluran informasi yang mondial. Artinya, lembaga atau perusahaan tersebut menjangkau pemirsa tingkat global, tidak hanya bersifat lokal. Perusahaan atau lembaga itu bisa sifatnya transnasional ataupun bisa juga hanya bersifat nasional atau regional.

Dalam bahasa sederhana, global media ini adalah institusi yang menyediakan, memproduksi dan mendistribusikan informasi, data, opini dan bahkan propaganda. Global berarti menjangkau seluruh pelosok dunia dan media disini adalah lembaga atau perusahaan yang menjadi aktor dalam distribusi dan produksi informasi.

Pemain Global Media.

Menurut Edward S Herman and Robert McChesney (1998) , aktor dalam global media terutama berasal dari Amerika Serikat. Bisa disebutkan diantaranya:
1. News Corporation dengan pemilik Rupert Murdoch memiliki akses di berbagai media internasional. Sebanyak 132 surat kabar di Australia, Inggris dan Amerika Serikat dimiliki News Corp. Pemiliki studio Twentieth Century Fox , penerbit buku HarperCollins, Asian Star television, British Sky Broadcasting . Selain itu pemilik saham untuk Sky Television di Amerika Latin, India Chanel V dan Phoenix Satellite Television Company di Hongkong.
2. Time Warner, pemilik 24 majalah termasuk Time, penerbit buku kedua terbesar termasuk Time Life Books, Warner Music Group, Warner Brothers film studio, HBO, Cinemax, CNN, Cartoon Network.
3. Disney memiliki studio Disney dan Buena Cista, theme park Disneyland termasuk di Perancis dan Jepang, Disney brands, penerbitan buku, jaringan televisi ABC.
4. Viacom, pemilik 13 stasiun televisi di Amerika, jaringan televisi global MTV, Nickeldeon, Paramount Pictures film studio, Blocbuster Video and Music stores, penerbit Simon & Schuster, penerbit Macmillan

Demikian beberapa pemain raksasa dalam global media. Hampir semua masyarakat termasuk di Indonesia pernah dan sedang menikmati produk dari perusahaan tersebut. Selain raksasa tadi yang satu sama lain bekerja sama ada pula studio Universal, Sony, Dow Jones, New York Times, Washington Post dan McGraww Hill.

Di sejumlah negara Eropa juga muncul kekuatan raksasa media, BBC di Inggris sebagai lembaga media publik menempati posisi unik. Aktor global media juga muncul dari Perancis, Jerman, Hongkong dan Jepang.

Dampak Global Media.

Herman and McChesney mengidentifikasi empat pengaruh negatif dari pola global media ini.

1. Values. Komersialisasi yang muncul dari media ini dengan penjualan iklan secara besar-besaran menekankan pada pola konsumtif sebagai tujuan hidup, individualisme dan kebebasan individu sbagai kondisi sosial fundamental yang diinginkan. Semua konsumen dirangsang untuk mengkonsumsi produk baru dari global media itu secara kontinyu. Kita lihat misalnya produk film, lagu, video dan buku terus bermunculan merangsang konsumen untuk mendapatkannya. Hanya ada catatan disini bahwa penekanan nilai materialistik itu pada saat bersamaan melemahkan rasa simpati kepada sesama dan cenderung menghilangkan semangat komunitas. Semua produk global media dikejar untuk memuaskan individu bukan untuk pemberdayaan komunitas.
2. Banjirnya hiburan di masyarakat. Konsekuensi karena munculnya iklan untuk menunjang media global ini maka hiburan menjadi sebuah jargon penting dalam produksi media ini. Muncul istilah infotainmen, talk show, reality news, reality show. Anak-anak dan remaja dijadikan sasaran dalam produksi media global.
3. Memperkuat kekuatan politik konservatif. Ada satu kecenderungan yang dicatat dengan adanya kekuatan raksasa media ini. Mereka tidak akrab dan tidak senang dengan kekuatan buruh atau para pekerja. Mereka bersatu dalam menghadapi serikat pekerja. Tidak hanya dalam skala perusahaan tetapi juga bisa menjangkau dalam skala negara. Artinya jika sebuah negara tidak bersahabat dengan kehadiran global media ini mereka akan dijadikan sasaran politik.
4. Erosi budaya lokal. Kehadiran global media ini menyebabkan terdesaknya budaya setempat. Dengan banjir film, video, lagu, musik dan buku, maka perlahan-lahan budaya lokal mengalami erosi. Otot ekonomi dari global media ini sedemikian besarnya sehingga penetrasinya bisa sampai ke pedalaman. Era telekomunikasi global sekarang semakin mempercepat perhatian terhadap budaya lokal ini terkurangi.

Tantangan

Dengan banjirnya informasi dan data ini, apakah sedemikian rawannya posisi masyarakat terutama di negara berkembang ? Apakah tidak ada jalan lain untuk menjadikan dampak negatif ini sebagai pelajaran untuk tetap survive? Inilah bagian penting perbincangan kita ini. Beberapa alternatif pemikiran bisa diajukan disini.

1. Menyerap sisi positif dari kemajuan teknologi informasi. Ini penting sekali karena global media memang telah hadir di sekitar kita. Saatnya untuk melihat secara proaktif kemajuan yang tidak bisa dihindari lagi. Sikap proaktif ini antara lain menjadikan ketersediaan informasi yang luar biasa ini disaring, difilter sesuai dengan kebutuhan. Informasi ini tidak bisa dibendung lagi yang bisa dilakukan dialirkan dengan baik, yang buruk dibuang dan beberapa nilai positifnya dimanfaat. Tentu saja tidak mudah namun wujudkan bisa didiskusikan, prinsipnya proaktif dan positif.
2. Sistem peringatan dini. Terbukanya informasi yang ada di alam internet misalnya memungkinkan sebuah masyarakat menciptakan peringatan dini akan datangnya informasi yang buruk. Sistem ini bisa diciptakan mulai dari sisi individu, keluarga, komunitas kecil sampai negara. Sudah menjadi hal umum misalnya sebuah negara melarang film tertentu karena nilainya bertentangan dengan values masyarakat. Da Vinci Code dilarang di Malaysia karena dianggap meresahkan masyarakat.
3. Informasi pendidikan dan pemberdayaan dimanfaatkan. Global media selain memproduksi hiburan yang bisa mendesakkan budaya lokal tetapi juga menghasilkan unsur-unsur yang bernilai informasi positif dan pendidikan. Kini saatnya untuk menonjolkan dan memanfaatkan sisi pendidikan ini atau education.

4. Berpacu dalam kreativitas. Produk global media lahir karena daya kreativitas yang tinggi. Sudah waktunya belajar juga mengapa inovasi dan kreativitas ini mengalir dan tumbuh begitu cepat. Kreativitas tanpa henti inilah yang semestinya dipelajari dan dikembangkan bukan saja produk akhir dari global media.

Penutup

Global media menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan masyarakat sekarang yang dilanda globalisasi informasi dan telekomunikasi. Lintasan data di muka bumi ini beredar dengan kecepatan sangat luar biasa bisa dalam hitungan detik, menit dan jam. Namun tidak semua muatan informasi dari aktor global media ini memiliki nilai yang cocok dengan masyarakat. Sudah saatnya satu segmen masyarakat memberikan masukan agar dampak global media ini tidak membuat satu entitas bangsa larut dan hancur. Wallahu’alambissawab

Post a Comment