Antre Minah, Lemas, Mbok Siti pun Tewas

Diduga kecapekan usai mengantre minyak tanah (minah), Mbok Siti (52) warga Tandes Kidul Gang Makam No 84 Surabaya meninggal. Siti meninggal dalam perjalanannya menuju RSU dr Soetomo.

“Istri saya datang mengantre sejak pukul 07.30 WIB hingga pukul 09.30 WIB,” ujar Slamet, suami korban kepada wartawan di rumah mertuanya Jalan Simo Kwagean Gang Buntu Lor 8, Rabu (9/4/2008).

Saat mengantre di pangkalan minyak milik Wasil di Tandes Kidul itu, Mbok Siti membawa 3 buah jerigen dengan kapasitas 5 liter setiap jerigennya. Dengan sabar Mbok Siti bersama pengantre yang lain menunggu kedatangan mobil tangki minyak tanah. Namun, hingga 2 jam lamanya mengantri truk tersebut belum datang juga.

Karena lama menunggu Mbok Siti pun dijemput pulang oleh Slamet untuk digantikan dengan anaknya Khusaeni. Namun setiba di rumah, Mbok Siti langsung terkulai lemah. Slamet pun kaget mengetahui kondisi istrinya. Dengan segera Mbok Siti langsung dilarikan ke Rumah Sakit Muji Rahayu di Jalan Manukan.

Pukul 11.30 WIB, Mbok Siti dirujuk ke RSU dr Soetomo karena peralatan di RS Muji Rahayu tidak memadai. Sayangnya sesaat setelah dirawat di RSU dr Soetomo, Mbok Siti menghembuskan nafas terakhirnya.

Selain kecapekan, meninggalnya Mbok Siti juga diduga karena penyakit darah tinggi yang sudah diidapnya setahun belakangan ini.

“Sebelumnya istri saya sehat-sehat saja. Memang dia punya penyakit darah tinggi, tetapi nggak parah-parah amat kok,” ujar Slamet.

Meski diaku Slamet tidak parah, namun setiap sebulan sekali pria yang berprofesi sebagai tukang servis elektronik itu selalu membawa istrinya mengontrol penyakit darah tingginya ke rumah sakit.

Selain meninggalkan seorang suami, tewasnya Mbok Siti juga meninggalkan 2 orang anak Roni dan Khusaeni. (iwd/fat)

Post a Comment