Atasi Tuli Buah Hati dengan Implantasi Koklea

Penggunaan alat bantu mendengar (ABM) biasa dipakai untuk mengatasi ketulian. Jika tak ada perbaikan, implantasi koklea menjadi alternatif menyelamatkan pendengaran seumur hidup.

Tuli atau gangguan pendengaran bisa dialami siapa pun dan kapan pun. Kerusakan pendengaran bisa menyebabkan kesulitan berkomunikasi.

Hal itu membuat orang tuli berisiko terisolasi secara fisik, mental, maupun sosial. Ditambah risiko kecelakaan yang lebih tinggi mengingat mereka tidak bisa mendengar bunyi klakson atau sirene peringatan saat ada kebakaran misalnya.

“Rubela, suatu penyakit infeksi yang umum, merupakan penyebab utama pada kasus ketulian anak-anak di Indonesia,” ungkap spesialis THT dari RS Pantai Indah Kapuk (RSPIK) Jakarta Barat, Dr Sosialisman SpTHT. Sebagian besar anak-anak yang teridentifikasi kehilangan pendengaran, lanjutnya, justru terlahir dari orangtua yang bisa mendengar.

Tuli akibat infeksi dan tuli konduktif atau gangguan di telinga luar dan tengah umumnya bisa diobati atau dibantu dengan ABM. Namun, pada tuli sensorial alias kerusakan di area dalam telinga, rata-rata tidak bisa dipulihkan atau diatasi dengan ABM. Begitupun pada tuli kongenital bawaan lahir.

Salah satu solusi adalah dengan implantasi koklea. Caranya dengan menanamkan sejenis peranti digital di dalam telinga untuk menggantikan fungsi koklea yang rusak. Lalu disambungkan dengan perangkat pengatur digital dan mikrofon di bagian luar.

“Teknologi terbaru memungkinkan orang tuli mendengarkan berbagai suara dengan intensitas dan frekuensi berbeda-beda,” kata Managing Director The Hearing Solution, Manfred Stoifl.(*exc/mitra)

Post a Comment