Membuka Kembali Lembaran Sejarah Kebangkitan Nasional

Bagi banyak orang Indonesia, proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 mungkin yang terlintas di benak manakala berbicara sejarah lahirnya bangsa Indonesia. Namun, sejatinya, sejarah kebangkitan dan perjuangan bangsa ini lebih panjang dan berliku.

Sejak tahun 1602, sebagian wilayah Indonesia yang dulunya berjuluk Nusantara di bawah kungkungan penjajahan bangsa Belanda. Perlawanan fisik bangsa Indonesia pun tak kunjung berhasil mematahkan Belanda. Dari era Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) hingga Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Hingga akhirnya seratus tahun lampau muncul gagasan baru di benak seorang dokter bernama Wahidin Sudirohusodo.

Walau didikan Belanda, dokter Wahidin mempunyai visi besar memajukan bangsanya lewat jalan yang sama sekali berbeda, yakni pergerakan pemuda terpelajar. Ide ini kemudian dibawa kepada para mahasiswa Sekolah Kedokteran Stovia di Batavia–nama Jakarta pada zaman penjajahan Belanda. Lantas, berdirilah sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo. Dalam bahasa Jawa, budi utomo berarti usaha yang mulia.

Setelah mendirikan organisasi Boedi Oetomo, langkah selanjutnya yang diambil para mahasiswa Stovia adalah mengadakan kongres pada tahun 1908 di sebuah gedung yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Atas Negeri 11 Yogyakarta. Kota Yogyakarta dipilih karena latar belakang priyayi para pengurus dan anggota yang banyak mendapat dukungan pihak keraton.

Namun justru keterikatan tradisional macam inilah yang belakangan dianggap membuat Boedi Oetomo terlalu konservatif. Apa pun kontroversi yang berkembang, harus diakui bahwa Boedi Oetomo-lah yang berjasa memberikan inspirasi kepada para pemuda saat itu untuk bangkit.

Kelompok pemuda yang lebih progresif sebagian keluar, tapi sebagian lainnya mendirikan bagian khusus kepemudaan yang disebut Trikoro Dharmo. Dari konteks itulah kemudian berdiri Jong Java. Dalam perkembangan berikutnya berdiri sejumlah organisasi bercorak kedaerahan seperti Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Minahasa, dan Jong Batak. Boleh dibilang, saat itu semangat kepemudaan kemudian menyebar.

Kendatipun awalnya terpisah, pena sejarah kemudian mencatat para pemuda Indonesia akhirnya bersatu. Sementara di jalur politik pun muncul partai politik pertama negara ini: Indische Partij. Antara lain atas prakarsa dokter Cipto Mangunkusumo, salah satu pendiri Boedi Oetomo. Ini seperti penuturan rekannya dalam tiga serangkai yang juga pendiri partai, Ki Hajar Dewantara.

Tahun dan dekade silih berganti, gerakan perlawanan makin terorganisasikan dan berkembang. Indonesia perlahan makin mantap menemukan identitas bangsa(*lip6)

Post a Comment