Pertolongan berlanjut setelah rumor

Kota Beichuan lululantak menjadi puing-puing akibat gempa bumi hari Senin, tapi upaya pertolongan masih berlanjut untuk menemukan dan mengangkat korban yang selamat dari puing-puing bangunan. Namun, pencarian dihentikan pada hari Sabtu saat rumor tentang ancaman banjir mendorong warga berebut untuk melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi.


Beichuan berada di dekat episentrum gempa yang diyakini menewaskan 50.000 orang.

Pada hari Sabtu jumlah korban yang dipastikan tewas meningkat menjadi 28,881. Pemerintah Cina menyatakan, sekitar lima juta warganya kehilangan tempat tinggal akibat gempa di belahan barat daya negara tersebut.

Beberapa orang yang ditarik dari puing-puing hari Sabtu, termasuk seorang wanita di kota Deyang, dan pekerja tambang usia 33 tahun di Shifang. Kedua orang tadi telah tertimbun selama sekitar 124 jam.

Kacau balau

Wartawan BBC Paul Danahar di Beichuan mengatakan, kota tersebut berubah dari suasana operasi bantuan dan penyelamatan menjadi suasana kacau balau.

“Semua orang berlarian — penolong, tim bantuan militer, petugas medis dan warga setempat - dan orang yang sedang ditolong terpaksa ditinggal begitu saja,” katanya.

“Kami sedang merekam seorang pria yang hendak ditarik setelah beberapa jam penggalian dan tim penolong harus meninggalkan dia dan lari,” tambahnya

Kantor berita resmi Xinhua memperingatkan, bahwa sebuah danau, yang terbentuk akibat tanah longsor yang menyumbat sebuah sungai, “mungkin meluap setiap saat”.

Namun, pihak berwenang Cina belakangan mengatakan, kota Beichuan tidak terancam oleh air.

Wartawan kami melihat tentara Cina kembali ke kota untuk melanjutkan upaya penyelamatan, namun warga sipil belum kembali dari pengungsian mereka.

Warga yang bertahan di kota setelah gempa, atau kembali untuk memeriksa harta benda mereka atau mencari anggota keluarga mereka tampaknya kini bertahan di perbukitan di sekeliling kota.(*BBC)

Post a Comment