Pemerintah Godok Aturan Tender BWA

Jakarta - Pemerintah saat ini sedang melakukan tahap akhir proses alokasi ferkuensi dan penetapan waktu penyelenggaraan tender broadband wireless access (BWA). Diharapkan dalam waktu dua bulan ini sudah selesai.
tuxspg6oij.jpg

“Kami harap penyelenggaraan BWA, khususnya penetapan waktu pelaksanaan tender dan alokasi frekuensi bisa kelar sebelum dua bulan ini. Jika konsultasi publik bisa selesai dalam waktu dua minggu maka kemungkinan tidak akan membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk finalisasi,” ujar Ketua Tim Penyelenggaraan BWA Suhono Supangkat, saat dihubungi melalui telepon, Jumat (15/8/2008).

Menurut Suhono, pembahasan finalisasi ini akan berimbas pada penyelenggaraan tender BWA di Indonesia. Pasalnya di sini, selain membahas waktu penyelenggaraan tender, pemerintah juga akan membahas parameter utama penyelenggaraan BWA seperti konektivitas, keterjangkauan harga, dan keterlibatan industri dalam negeri untuk meningkatkan penyelenggaraan BWA ini.

Pembahasan ini, jelas Suhono, tidak hanya melibatkan pemerintah tapi juga pihak terkait dalam pemerintahan. Misalnya terkait industri berbasis BWA yang akan muncul saat teknologi ini diselenggarakan maka pemerintah pun meminta pendapat kementerian industri dan perdagangan. Sedangkan untuk masalah perekonomian makro yang diprediksi akan berkembang melalui bantuan teknologi BWA ini maka pemerintah pun mengajak menko perekonomian untuk berdiskusi.

“Selain itu, kita juga kan melibatkan publik lewat konsultasi publik, perguruan tinggi bahkan profesional,” kata Suhono.

Saat ini pemerintah menganggap dua frekuensi potensial yang akan mendukung layanan BWA di Indonesia berada di frekuensi 3,3 Ghz dan 2,3 Ghz. Menurut Suhono, kedua frekuensi ini bisa jadi akan digunakan untuk kepentingan yang berbeda. 3,3 dapat digunakan untuk layanan BWA yang nomadik sedangkan 2,3 untuk BWA mobile. Meskipun beberapa bagian dalam 2,3 Ghz juga bisa digunakan untuk nomadik.

“Yang jelas, perusahaan lokal sudah menyatakan kesiapannya untuk mendukung diselenggarakannya layanan BWA di Indonesia. Misalnya saja Indonesian Tower, dan PT Intiyang menyatakan berkomitmen,” tandas Suhono

Post a Comment