Santri Kitab Kuning Menurun Drastis

Kediri - Jumlah santri yang mengaji tafsir kitab kuning (kitab salaf atau klasik) selama bulan Ramadan terus mengalami penurunan secara drastis dari tahun ke tahun. Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Puh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur hanya diikuti 20 orang santri. Padahal tahun sebelumnya selalu diikuti lebih dari 200 orang santri.

“Penurunan jumlah santri terjadi sejak kenaikan BBM tahun 2005 lalu. Mungkin karena faktor ekonomi. Untuk datang ke sini butuh biaya transportasi,” kata KH Ahmad Yasin Asymuni, pengasuh pondok pesantren yang terkenal dengan sebutan Pondok Petuk, Kamis (4/8).

Para santri itu merupakan santri tamu (santri kilat) yang kedatangannya ke Pondok Petuk hanya selama bulan Ramadan. Selain dari pondok pesantren sekitar Pulau Jawa, para santri kilat berasal dari Lampung, Medan dan Pontianak. Mereka belajar memaknai kitab-kitab klasik mulai tanggal 15 Sya’ban hingga 20 Ramadan. Mereka mendapat bimbingan khusus untuk memaknai kitab kuning di tempat terpisah dari ratusan santri penghuni Pondok Petuk.

“Meskipun dengan jumlah santri sedikit, program ini terus kami lakukan untuk memberi kesempatan santri tamu belajar memaknai kitab kuning,” kata KH Ahmad Yasin Asymuni.

Dengan dibimbing KH Yassin Asymuni, kitab yang paling populer dimaknai atau ditafsirkan pada bulan suci Ramadan adalah kitab Syamsul Ma’arif yang mengupas tentang kesehatan dan dunia kedokteran. Selain itu juga kitab-kitab klasik lain seperti Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghozali atau Hidayatul Thibyan.

Di sisi lain, meski jumlah santri tamu terus menurun, namun penjualan kitab kuning bermakna (kitab kuning yang telah dimaknai) produksi Pondok Petuk cenderung meningkat, khususnya pada bulan Ramadan. Jika pada hari-hari omzet penjualan hanya berkisar antara Rp 1 juta per hari, meningkat menjadi Rp 2 juta per hari.

“Seluruh pesantren di tanah air mengambil kitab kuning yang telah diberi makna dari sini. Kami kirim lewat paket,” kata Ruslin Nafiudin, Ketua Koperasi Pondok Petuk.

Harga kitab berkisar dari Rp 2.500 hingga Rp 500 ribu, tergantung tebal tipisnya kitab. Dari 115 kitab klasik yang telah dimaknai para santri Petuk, yang paling laris dibeli pada saat Ramadan adalah kitab Ihya Ulumudin karangan Imam Ghozali. Kitab dengan 4 jus (jilid) itu dibanderol dengan harga Rp 440 ribu. “Bagi seorang santri, tidak afdol rasanya belajar agama jika tidak mampu memaknai kitab kuning,” kata Ruslin.(*ti/rizky/www.mitrafm.com)

Post a Comment