Menyulap Limbah Menjadi Miniatur Motor Unik
By eko on Oct 29, 2008 in MITRA UP DATE- Berita Terkini Mitra 97FM
Bandung - Bagi kebanyakan orang apalah arti kabel bekas, busi bekas, paralon atau limbah-limbah elektronik. Kemungkinan besar akan berakhir di kantong sampah. Tapi di tangan Sulyana yang akrab dipanggil Rerey (37) warga Hegarmanah Kulon limbah-limbah tersebut bisa disulap jadi miniatur motor yang unik.
Ketika datang ke bengkelnya, Rey Costume Miniature, yang tepat berada di belakang rumahnya di Hegarmanah Kulon Gang Ranim No 29, deretan motor-motor karya Sulyana begitu menarik terpajang di dalam box-box kaca. Takjub sekaligus heran, bagaimana limbah-limbah tersebut dikreasikan sehingga menghasilkan produk kerajinan yang istimewa.
Di bengkel kecilnya ini Rerey menjajal keahliannya di tahun 2006. “Memang awalnya adalah hobi. Saya membuat motor ini untuk konsumsi sendiri. Tapi saat itu ada kawan dekat yang tertarik untuk membeli hingga akhirnya saya jual,” ujarnya.
Namun selepas itu Rerey mengaku sempat berhenti berkreasi dan memutuskan untuk bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan farmasi. Tapi hatinya terpanggil kembali untuk kembali membangun usahanya ini. Maka Rerey mulai menekuni hobinya ini sekitar 6 bulan yang lalu.
Diakui ayah dua anak ini, sejak kembali merintis kerajinan miniatur motor ini sedikit demi sedikit mulai banyak yang memesan bukan hanya dari Bandung tapi juga seluruh Indonesia. “Ada juga dari Jakarta, Bekasi, Kalimantan dan kota-kota lainnya,” ungkap Rerey.
Promosi dari mulut ke mulutlah yang membuat usaha Rerey ini mulai dikenal banyak orang. Meskipun omzet belum begitu kencang, namun Rerey mengaku pesanan selalu ada. Bersama empat orang kawannya dalam seminggu Rey Miniature bisa memproduksi 2-3 motor. “Itu kalau perorangan, kalau bareng-bareng bisa lebih lagi,” ujarnya.
Miniatur motor yang dibuatnya adalah duplikasi dari gambar motor-motor yang ada di majalah atau sesuai dengan pesanan. Kebanyakan Rerey menduplikasi motor-motor besar meskipun tidak menutup kemungkinan untuk membuat jenis lain misalnya motor vespa atau sepeda.
“Kebanyakan para pelanggan ingin dibuatkan miniatur motor yang dimilikinya,” ujar Rerey.
Meski sudah banyak pesanan, Rerey mengaku sampai saat ini usaha miniatur motornya belum bisa balik modal. Modal yang paling besar dikeluarkan adalah untuk pembelian peralatan seperti kompresor, bor, perkakas perbengkelan dan perkakas kayu.
“Untuk modal awal ada teman yang investasi. Tapi sekarang untuk modal dari hasil penjualan motor. Tapi untuk modal peralatan belum sepenuhnya balik,” ujar suami dari Krisnayanti ini.
Rerey mengharapkan usahanya yang masih dibilang embrio ini terus bertahan dan menghasilkan. Dia pun menekankan, dirinya masih membutuhkan modal agar lebih berkembang.(*dtk/rzq/www.mitrafm.com)



Post a Comment