Ketika Vonis Kanker Itu Datang…
By eko on Nov 18, 2008 in MITRA UP DATE- Berita Terkini Mitra 97FM
BAGI perempuan yang pernah mengalaminya, divonis mengidap kanker payudara akan memunculkan suatu pergolakan emosi yang begitu hebat. Dunia serasa mau runtuh, itulah yang dialami oleh seorang dokter ahli kejiwaan dr. Sylvia D. Elvira, Sp.K.J beberapa tahun lalu.
“Karena payudara merupakan organ yang sangat penting bagi perempuan, seperti mahkota. Aspek psikologinya biasa sangat kental berhubungan dengan citra tubuh, apalagi kalau didiagnosa stadium lanjut,” ungkap Sylvia dalam Seminar Embrace Life with Breast Cancer yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia dan GE Women’s Network di CityWalk Sudirman Jakarta, Rabu (12/11).
Setelah didiagnosa kanker payudara, walau masih stadium dini, Sylvia mulai sering menyendiri. Penolakan demi penolakan terhadap kebenaran diagnosa itu terus terjadi. Bahkan dirinya, jadi enggan berobat ke dokter. Depresi pun mulai melanda ketika teringat anak-anaknya.
“Seringkali yang terpikir setelah didiagnosa karsinoma, perempuan, termasuk saya, langsung memikirkan anak saya, bagaimana nasib mereka nanti. Apalagi anak saya masih ada yang SD,” tandas Sylvia.
Respon wajar penderita
Sebagai ahli kejiwaan, Sylvia menyadari seseorang yang didiagnosa menderita penyakit berat akan mengalami gangguan keseimbangan hidup dan depresi akibat mengerahkan seluruh perangkat jiwa untuk menerimanya.
Betapa tidak. Tekanan dirasa sangat hebat ketika ia diberitahu harus menjalani kemoterapi dan bagaimana efeknya nanti. Belum lagi konsekuensi hidup dengan satu payudara karena satu payudara lainnya harus diangkat. Pertanyaan-pertanyaan seputar penampilan tubuh, penerimaan pasangan nantinya, hingga semangat hidup dengan satu payudara, silih berganti.
“Lalu suami saya tanya, sekarang kamu mau larut dalam penyakit kamu atau mau sembuh?” tutur Sylvia.
Penyangkalan, keraguan, tawar-menawar, kecemasan, serta penerimaan merupakan tahapan psikologi yang dihadapi seseorang ketika menghadapi penyakit berat.
Di sini perlu kesadaran dari diri sendiri bahwa semangat hidup diperlukan untuk sembuh. Tentu saja hal ini harus dipelihara mulai dari pengobatan awal, pra operasi hingga berbagai terapi pasca operasi.
Dukungan keluarga
Bagi penderita kanker payudara, apalagi perempuan sebagai makhluk yang mengedepankan emosional, dukungan dan pelukan dari orang-orang terdekat merupakan sebuah oase di tengah padang gurun.
Bagi Sylvia, dukungan suami dan anak-anaknya merupakan semangatnya untuk sembuh. “Keluarga harus mendampingi dengan hangat, memberi semangat dan menentramkan. Keluarga harus berupaya memahami kondisi psikologis penderita,” ujar Sylvia.
Semangatnya untuk meraih kembali hidupnya yang bermakna datang dari keluarga hingga segala proses pengobatan tuntas tahun lalu.(*kps/rzk/www.mitrafm.com)



Post a Comment